Juni 19, 2018



Informasi Dauroh Islam Ilmiah di Pontianak, Kalimantan Barat bersama Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam

🍃🌾🍃🌾🍃🌾🍃

Bismillah, hadirilah dengan mengharap ridho Allah
Dauroh Islam Ilmiah di Pontianak, Kalimantan Barat bersama Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam -hafidzhahullah-

Rangkaian kegiatan:

1. Tabligh Akbar: Pribadi Lulusan Madrasah Ramadhan
Kamis, 7 Syawwal 1439 H / 21 Juni 2018
Pukul 19.40-21.00 WIB (Isya' berjamaah)
Di Masjid Raya Mujahidin

2. Khutbah Jum'at: Istiqomah
Jum'at, 8 Syawwal 1439 H / 22 Juni 2018
Di Masjid Al-Muhtadin UNTAN

3. Tabligh Akbar: Belajar Ikhlas
Sabtu, 9 Syawwal 1439 H / 23 Juni 2018
Pukul 18.15-20.30 WIB (Maghrib berjamaah)
Di Masjid Al-Muhtadin UNTAN

4. Kajian Intensif Membahas Kitab: Tiga Landasan Pokok yang Wajib Diketahui Setiap Muslim (Al-Ushul Ats-Tsalatsah)
Di Masjid Al-Manar, Jl. Nurali, Pontianak

Sesi 1
Jum'at, 8 Syawwal 1439 H / 22 Juni 2018
Pukul 15.30-17.15 WIB

Sesi 2
Sabtu, 9 Syawwal 1439 H / 23 Juni 2018
Pukul 08.00-11.30 WIB

Sesi 3
Sabtu, 9 Syawwal 1439 H / 23 Juni 2018
Pukul 12.45-15.00 WIB

Sesi 4
Ahad, 10 Syawwal 1439 H / 24 Juni 2018
Pukul 08.00-11.30 WIB

Sesi 5
Ahad, 10 Syawwal 1439 H / 24 Juni 2018
Pukul 12.45-15.00 WIB

Kajian intensif ini menggunakan panduan modul kitab syarah penjelasan 3 landasan utama buah karya Syaikh Sholeh Fauzan -hafidzhahullah- yang diterjemahkan oleh Ustadz Muflih Safitra -hafidzhahullah-
Pemesanan modul kajian hubungi Audit 0821-4848-2033 (SMS/WA)

🍃🌾🍃🌾🍃🌾🍃

Dauroh ini Gratis & Terbuka untuk Umum (Pria & wanita)

Silahkan diinformasikan seluas-luasnya, semoga Allah mudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu syar'i dengan niat lurus Lillahi Ta'ala

---
CP: 0857-2389-1321 (HUMAS RAM)




Juni 17, 2018


Salurkan Infaq dan sedekah Anda, mari bersama-sama membangun rumah di surga-Nya

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.”
(HR. Ibnu Majah no. 738. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)


Dengan Uang Rp. 12.000,- Kita Sudah Bisa membantu untuk pembangunan masjid.

Dengan diniatkan untuk Infaq /sedekah pembangunan Masjid maka pahalanya mengalir terus sepanjang Masjid tersebut masih beroperasi, walaupun orang yg berinfaq/sedekah sudah meninggal dunia.

Yang ingin meng"aman"kan dananya untuk rezeki terbesar di dunia dan akhirat, silahkan mentransfer ke rekening :
Bank Mandiri Syariah (451)
No. Rek. 222.000.7898
An. PP. Masjid Muwahidin


Konfirmasi :
SMS / WA : 0853.1903.1000


Diperlukan Dana 4,8 Miliar dan
Kami mencari 400.000 orang
Yg mau bergabung berinfaq /sedekah
sebesar "Rp. 12.000,-"
(Dua Belas Ribu Rupiah)

Untuk pembangunan Masjid Muwahhidin.

Alamat Masjid yg akan dibangun:
JL. Tani Jaya, Desa Parit Keladi
Kecamatan Sungai Kakap
(Kalimantan Barat)


Perkembangan donasi per 17 Juni 2018:
• DONASI DITERIMA         :      91.485.055

• DANA DIBUTUHKAN      : 4.800.000.000
• KEKURANGAN DANA    : 4.708.514.945

Pengumpulan infaq/sedekah pembangunan Masjid ini akan ditargetkan sampai tanggal 31 Desember 2018

Perkembangan Hasil infaq/sedekah insyaallah akan diupdate setiap hari.

---
Tertanda,

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Muwahhidin:
Leman Mardiyanto, S.T.


Wakil Ketua:
Awang Sjarul Alam, S.T.


Sekertaris:
Erry Gandara, A.Md.


Amik Palbihi, SIP


Bendahara:
M. Elvin Nasution, SP


Penanggung Jawab:
Yayasan Muwahhidin

Media Partner:
Lembaga Rumah Amal Muwahhidin

Sekretariat: Jl. HOS Cokroaminoto Gg. bersatu No. 32 Pontianak, Kalbar (Kantor Rumah Amal Muwahhidin)

---
Mengetahui,

Pembina :
Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc, MA
Ustadz Abu Nasyhita Ridwan, A.Md, Spd.I



Juni 15, 2018


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah.
Taqobbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalku dan amal kalian. Aamiin

_
Lembaga Rumah Amal Muwahhidin
Sekretariat:
Jl. HOS Cokroaminoto Gg. Bersatu No. 32, Pontianak

Telp/SMS/WA:
+62 857 2389 1321 (Humas RAM)
+62 821 5822 4044 (Donasi Umat RAM)

Email:
rampontianak@gmail.com

Informasi Update Program RAM:
www.ram.or.id
www.facebook.com/rampontianak
www.instagram.com/rampontianak
www.twitter.com/rampontianak
 
 
 

Juni 10, 2018



🌿 Coming Soon Kajian Intensif membahas kitab Ushul Tsalatsah di Pontianak bersama Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam 🌿


Insyaallah kajian akan dilaksanakan di bulan Syawwal 1439 H (Juni 2018).

Inti dari kitab yg akan dibahas ini meliputi lima hal pokok berikut:
1) Tiga pertanyaan di alam kubur dan jawabannya, disertai dengan dalil-dalilnya.
2) Di dalamnya juga terdapat penjelasan tiga macam tauhid sekaligus, yaitu: Tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah, dan Al-Asma’ wash Shifat, walaupun penekanannya adalah pembahasan Tauhid Uluhiyyah, adapun penjelasan kedua macam tauhid yang lainnya disebutkan secara sekilas.
3) Penjelasan tentang agama Islam dan tingkatannya, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.
4) Penjelasan tentang Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dan ajaran terpenting yang dibawa oleh beliau serta sikap yang benar kepada beliau.
5) Iman terhadap hari Kebangkitan dan penjelasan inti dakwah seluruh Rasul alaihimush shalaatu was salaam, yaitu Tauhid Uluhiyyah.

Resensi kitab selengkapnya simak di: https://bit.ly/2l2dyvX

Kajian intensif ini insyaallah akan diisi oleh Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam hafidzahullah.

Dalam pendidikan formal, beliau pernah mengenyam D3 Pendidikan Matematika UGM. Sedangkan dalam mendalami pendidikan bahasa arab dan agama, beliau pernah mengenyam pendidikan di beberapa pesantren di Indonesia serta Darul Hadits di Yaman.

Aktifitas dakwah saat ini, beliau merupakan pengajar di Pesantren Ihya As-Sunnah Tasikmalaya, pemateri tetap majelis ta'lim di beberapa daerah di Jawa, serta pemateri tetap di Insan TV. Beliau juga memiliki buah karya buku yang berjudul 'Mutiara Faidah Kitab Tauhid'.

Semoga Allah mudahkan kita untuk mengambil manfaat dari majelis ilmu ini, aamiin.

---
Bagi yang ingin berkontribusi pada kegiatan ini baik moril maupun materil dapat menghubungi +62 821-4848-2033 (Panitia SRM).

Bantuan materil dapat langsung ke sekretariat Lembaga RAM atau dapat ditransfer melalui rekening lembaga:
| Bank Syariah Mandiri
| No. Rek. 7118788464
| an. PANRAM L. Rumah Amal Muwahhidin

Kemudian diharapkan konfirmasi dengan mengirimkan SMS atau WA ke nomor +62 821-4848-2033 dengan format:

NAMA#TUJUAN_DONASI#JLH_TRANSFER#ALAMAT_KEDIAMAN
Contoh: Abdullah#Donasi Kegiatan SRM# Rp. 1.000.000,-#Jl. HOS Cokroaminoto (Merdeka Timur) Gg.Bersatu No.32 Pontianak, Kalimantan Barat

Jazaakumullahu khairan

---
Info lebih lanjut hubungi:
📞✉ +62 821-4848-2033

Yuk bantu share! Semoga menjadi amal kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang terjemahnya:
“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674)

#SemarakRamadhanMuwahhidin
#DaurohPascaRamadhan
#1439Hijriyah




Juni 07, 2018


Hadirilah dengan mengharap ridho Allah Suhanahu wa Ta'ala

🌾🍃🌾🍃🌾🍃🌾

Itikaf dan Kajian
Spesial 10 Hari Akhir Ramadhan

Terbuka untuk umum, ikhwan dan akhwat

Pembahasan Dua Kutaib:
1.) Memperbaharui Iman
2.) 10 Kaedah agar Istiqomah

Buah karya Syaikh Dr. Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Badr

Pemateri: Ustadz Abu Nasyhita Ridwan
Di Masjid Al-Manar Jl. Nurali, Pontianak
Kajian mulai Shubuh, 21 Ramadhan 1439 H

Fasilitas:
✓ Makan sahur dan berbuka puasa
✓ Kajian ilmu setiap ba'da shubuh dan menjelang berbuka puasa

Pendaftaran dan donasi buka puasa dan sahur dapat menghubungi panitia:
0896-9384-3003 (Ribu)
0896-9394-3688 (Indra)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh:
Lembaga Rumah Amal Muwahhidin
Panitia Semarak Ramadhan Muwahhidin 1439 H

Didukung oleh:
DKM Masjid Al-Manar Pontianak

Silahkan dishare, semoga menjadi amal kebaikan di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala



Juni 04, 2018


SYAHWAT & SYUBHAT

Syaithan merupakan musuh nyata manusia. Dia selalu berusaha menjerumuskan manusia kedalam jurang kekafiran, kesesatan dan kemaksiatan. Di dalam menjalankan aksinya itu syaithan memiliki dua senjata ampuh yang telah banyak makan korban. Dua senjata itu adalah syubhat dan syahwat. Dua penyakit yang menyerang hati manusia dan merusakkan perilakunya.

Syubhat artinya samar, kabur, atau tidak jelas. Penyakit syubhat yang menimpa hati seseorang akan merusakkan ilmu dan keyakinannya.    Sehingga jadilah “perkara ma’ruf menjadi samar dengan kemungkaran, maka orang tersebut tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Bahkan kemungkinan penyakit ini menguasainya sampai dia menyakini yang ma’ruf sebagai kemungkaran, yang mungkar sebagai yang ma’ruf, yang sunnah sebagai bid’ah, yang bid’ah sebagai sunnah, al-haq sebagai kebatilan, dan yang batil sebagai al-haq”. [Tazkiyatun Nufus, hal: 31, DR. Ahmad Farid]

Penyakit syubhat ini misalnya: keraguan, kemunafikan, bid’ah, kekafiran, dan kesesatan lainnya.

Syahwat artinya selera, nafsu, keinginan, atau kecintaan. Sedangkan fitnah syahwat (penyakit mengikuti syahwat) adalah mengikuti apa-apa yang disenangi oleh hati/nafsu yang keluar dari batasan syari’at.

Fitnah syahwat ini akan menyebabkan kerusakan niat, kehendak, dan perbuatan orang yang tertimpa penyakit ini.

Penyakit syahwat ini misalnya: rakus terhadap harta, tamak terhadap kekuasaan, ingin populer, mencari pujian, suka perkara-perkara keji, zina, dan berbagai kemaksiatan lainnya.

Wallahu a'lam bishawab

🌍Sumber: almanhaj(dot)or(dot)id

_
🔊Silahkan disebar, semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum..

➖➖➖●◎○◎●➖➖➖
Kemuslimahan Rumah Amal Muwahhidin (RAM)

📲 instagram.com/kemuslimahan_ram
📲 facebook.com/ram.kemuslimahan
📲 www.ram.or.id/


Mei 29, 2018



PERSATUAN UMAT ISLAM


Agama Islam mengajak manusia kepada persatuan, berkumpul di atas kebenaran, berpijak kepada al-Qur`an dan as-Sunnah menurut pemahaman salafush shalih. Agama Islam memerintahkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, dan melarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:


وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan  [Al-Mâ`idah/5:2]

Islam melarang perpecahan dan berkelompok-kelompok yang masing-masing berbangga dengan golongannya.
Persatuan yang dikehendaki dalam agama Islam adalah kesatuan dalam akidah, manhaj, dan berpegang teguh kepada al-Qur`an dan Sunnah menurut pemahaman salafus shalih. Persatuan yang dimaksud bukan sekedar persatuan badan atau perkumpulan, tetapi lebih ditekankan kepada persatuan hati dalam berakidah dan menjalani hidup ini sesuai dengan al-Qur`an dan Sunnah menurut pemahaman salafus shalih. Jangan membuat persatuan dan perkumpulan yang membawa kepada perpecahan, yang pada hakikatnya adalah persatuan yang semu seperti orang Yahudi yang Allâh sebutkan dalam al-Qur`an:


تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

Kamu kira mereka itu bersatu padahal hati mereka terpecah belah [Al-Hasyr/59:14]

Dalam mengajak manusia kepada persatuan dan berpegang teguh kepada agama Allâh Azza wa Jalla itu wajib ditegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena tidak mungkin manusia bersatu tanpa melarang mereka dari perbuatan syirik, bid’ah, maksiat dan penyimpangan lainnya. Jadi persatuan yang dikehendaki dalam agama Islam adalah persatuan di atas akidah dan manhaj serta berpegang teguh kepada al-Qur`an dan as-Sunnah menurut pemahaman salafus shalih dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar.

Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan kaum Muslimin dan melarang mereka dari berpecah belah, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allâh kepadamut ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allâh mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” [Ali ‘Imrân/3:103]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) menafsirkan ayat ini:
Firman Allâh, “Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allâh, dan janganlah kamu bercerai berai,” Ada yang berpendapat bahwa “kepada tali Allâh” berarti kepada janji Allâh, sebagaimana firman Allâh pada ayat setelahnya:


ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ

Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka (berpegang) pada tali (agama) Allâh dan tali (perjanjian) dengan manusia  [Ali ‘Imrân/3:112]

Yakni dengan perjanjian dan perlindungan. Ada yang berpendapat, “(berpegang) Kepada tali Allâh itu maksudnya adalah (berpegang) kepada al-Qur`an, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali z tentang sifat al-Qur`an,


هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَتِيْنِ، وَصِرَاطُهُ الْمُسْتَقِيْمُ

Al-Qur`an itu adalah tali Allâh yang kokoh dan jalan-Nya yang lurus

Firman-Nya, yang artinya, “dan janganlah kamu bercerai berai,” Allâh memerintahkan mereka untuk bersatu dengan jama’ah dan melarang berpecah belah.

Banyak hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melarang perpecahan dan menyuruh untuk menjalin persatuan. Sebagaimana disebutkan dalam Shahîh Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا: يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا، وَأَنْ تُنَاصِحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ.

Sesungguhnya Allâh meridhai kalian dalam tiga perkara dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridhai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada tali Allâh dan tidak bercerai berai dan memberi nasehat kepada ulil amri (pemimpin) yang mengurus urusan kalian. Dan Allâh membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak bicara (menyampaikan perkataan tanpa mengetahui kebenarannya-pent), menyia-nyiakan harta (berlebihan, boros), dan banyak bertanya (yang tidak penting-pent).” [HR. Muslim (no. 1715) dan Ahmad (II/ 367]

Dan mereka (kaum Muslimin jika bersatu) telah diberikan jaminan perlindungan dari kesalahan ketika mereka bersepakat. Sebagaimana hal itu telah disebutkan pula dalam banyak hadits.

Dan yang dikhawatirkan terhadap mereka adalah akan terjadi juga perpecahan dan perselisihan. Dan ternyata hal itu memang terjadi pada ummat ini, di mana mereka terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Dari semua golongan tersebut, terdapat satu golongan yang selamat masuk ke Surga serta selamat dari adzab Neraka, mereka itu adalah orang-orang yang berada di atas jalan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.

Firman-Nya:


وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

dan ingatlah nikmat Allâh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allâh mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allâh menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allâh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Konteks ayat ini berkenaan dengan kaum Aus dan Khazraj. Sebab pada masa jahiliyyah, di antara mereka telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang parah, rasa dengki dan dendam.

Maka ketika Allâh Azza wa Jalla menurunkan Islam, di antara mereka pun memeluknya, sehingga mereka jadi bersaudara dan saling mencintai karena Allâh Azza wa Jalla , saling menjaga hubungan dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:


هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ ﴿٦٢﴾ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

… Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin, dan Dia (Allâh) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allâh telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Al-Anfâl/8:62-63]

Mereka sebelumnya berada di tepi jurang neraka disebabkan oleh kekufuran, lalu Allâh Azza wa Jalla menyelamatkan mereka dengan memberikan hidayah untuk beriman. Mereka diberi kelebihan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari pembagian harta rampasan perang Hunain, lalu salah seorang di antara mereka mencela Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena Beliau melebihkan yang lain dalam pembagian sesuai dengan yang ditunjukkan Allâh kepada Beliau.

Mengetahui ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru kepada mereka, “Wahai kaum Anshar! Bukankah aku telah mendapati kalian dalam kesesatan, lalu Allâh memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku. Kalian sebelumnya terpecah belah, kemudian Allâh Azza wa Jalla menyatukan hati kalian melalui diriku. Dan kalian miskin, lalu Allâh Azza wa Jalla menjadikan kalian kaya juga melalui diriku.”

Setiap kali Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sesuatu, mereka berucap, “Allâh dan Rasul-Nya lebih dermawan.” [HR. Al-Bukhari dan Imam Ahmad]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:


وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.” [Ali ‘Imrân/3:105]


وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿٣١﴾ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allâh, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [Ar-Rûm/30:31-32]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


اَلْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

Berjama’ah (bersatu) adalah rahmat sedangkan berpecah-belah adalah adzab. [HR. Ahmad (IV/278) dan Ibnu Abi ‘Ashim (no. 93), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu anhuma. Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 667)]

Ahlus Sunnah mengajak kepada persatuan yang dilandasi dengan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, bukan persatuan semu dan sesat. Ahlus Sunnah tidak menyeru kepada perkara-perkara yang dapat memecah belah persatuan kaum Muslimin. Persatuan yang dikehendaki ialah persatuan menurut pemahaman ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti manhaj (pedoman) mereka. Bukan menurut pemahaman pengikut hawa nafsu dan hizbiyyah. [Lafazh hizb ada beberapa makna ditinjau dari aspek bahasa, al-Fairuz Abadi dalam Bashâiru Dzawit Tamyîzi (II/457) mengatakan: “Al-hizb adalah kelompok (golongan). Al-Ahzâb adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu nya para Nabi. Sedangkan dalam al-Qur-an terdapat beberapa sudut pandang:
Bermakna beberapa golongan yang berada dalam perbedaan pandangan, syari’at, dan agama. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rûm/30: 32)Bermakna tentara syaithan. (Al-Mujâdilah/58: 19)Bermakna tentara Allâh. (Al-Mujâdilah/58: 22), adapun tentara Allâh, maka mereka di dunia adalah sebagai pemenang. (Al-Mâ-idah/5: 56) Akibat (balasan) bagi mereka adalah sebagai pemenang yang beruntung. (Al-Mujâdilah/58: 22)]

Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury  rahimahullah mengatakan, “Al-Hizb secara bahasa adalah: ‘Golongan atau kumpulan manusia, berkumpulnya manusia karena ada sifat yang sama atau kemaslahatan yang menyeluruh. Mereka terikat oleh ikatan akidah dan iman atau ikatan kekufuran, kefasikan, kemaksiatan atau terikat karena (adanya perasaan) kebangsaan dan setanah air atau (ikatan) nasab atau keturunan, pekerjaan, bahasa, atau apa-apa yang serupa dengan itu berupa ikatan-ikatan, kriteria, kemaslahatannya yang secara adat manusia mereka berkumpul di atasnya dan bersatu karena sifat-sifat tersebut.

Bukanlah sesuatu yang tidak tersembunyi bagi seseorang yang berakal bahwa setiap hizb mempunyai prinsip-prinsip, pemikiran intern dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok (hizb). Meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang.

Undang-undang tersebut kedudukannya sebagai asas, menjadi dasar sistem pengorganisasian hizb, dan hizb sengaja dibangun berdasarkan undang-undang tersebut. Barangsiapa percaya dan meyakininya dengan sungguh-sungguh dengan istilah lain: dia mengakuinya, mengambilnya sebagai asas pergerakan dan amal jama’i yang tersusun rapi dalam hizb tersebut, maka ia menjadi anggotanya atau pendukung setianya. Yang tidak setuju atau menolak, maka ia tidak termasuk anggota hizb. Jadi, undang-undang itu menjadi asas wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan) persatuan dan perpecahan, kepedulian dan ketidakpedulian.

Atas pertimbangan yang demikian maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua hizb, yaitu hizb Allâh dan hizb syaitan, yang menang dan yang kalah, yang Muslim dan yang kafir. Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) ke dalam hizb Allâh, maka dia telah merobek-robek hizb Allâh, memecah belah kalimat Allâh Azza wa Jalla .

Seorang Muslim harus meninggalkan dan menanggalkan semua bentuk hizbiyyah yang sempit yang telah melemahkan hizb Allâh, dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok atau golongan atau jama’ah supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allâh. [Lihat ad-Da’wah ilallâh bainat Tajammu’ al-Hizbi wat Ta’âwun asy-Syar’i, hlm. 53-55 oleh Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi al-Atsari]

AHLUS SUNNAH MENGAJAK KAUM MUSLIMIN KEPADA PERSATUAN DI ATAS SUNNAH.

Jika kaum Muslimin bersatu di atas Sunnah, mereka akan mendapatkan rahmat Allâh Azza wa Jalla , kebaikan dan kekuatan. Dan jika mereka berselisih, yang terjadi adalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran.

Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatilah Allâh dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allâh beserta orang-orang sabar.” [Al-Anfâl/8:46]

Namun wajib diketahui bahwa persatuan itu dibangun di atas ittiba’ (ketaatan) kepada as-Sunnah bukan di atas bid’ah. Kebanyakan firqah-firqah yang mencela adanya perpecahan dan mengajak kepada persatuan, yang mereka maksud dengan perpecahan adalah golongan yang menyelesihi mereka meskipun golongan itu berada di atas kebenaran. Sedangkan yang mereka maksud dengan persatuan adalah kembali kepada prinsip dan manhaj mereka. Padahal prinsip dan manhaj mereka telah menyimpang dari jalan ash-shirath al-mustaqiim (jalan yang lurus). Oleh karena itu apabila terjadi perselisihan hendaklah dikembalikan kepada Allâh (al-Qur-an) dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Sunnahnya) dengan pemahaman Salafush Shalih.


Ahlus Sunnah menyerukan persatuan ummat Islam atas dasar Sunnah dan melarang berpecah-belah serta bergolong-golongan.


Ahlus Sunnah menyeru ummat Islam untuk berada dalam satu barisan di atas Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Adapun partai-partai, kelompok-kelompok bawah tanah, jama’ah-jama’ah sempalan dan bai’at-bai’at yang dikenal sebagai bai’at dakwah, ini merupakan penyebab timbulnya perpecahan dan fitnah (pertikaian). Bai’at hanya boleh diberikan kepada orang yang ditunjuk oleh ahlul halli wal ‘aqdi (semacam lembaga yudikatif) atau kepada seorang Muslim yang berkuasa dengan kekuatannya, meskipun ia seorang yang zhalim.

Ahlus Sunnah berpendapat tentang hadits:


مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ، مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa mati sementara ia belum berbai’at, maka kematiannya terhitung kematian secara Jahiliyyah.[HR. Muslim (no. 1851) dan al-Baihaqi (VIII/156) dari Sahabat Ibnu ‘Umar c]

Sanksi yang tersebut dalam hadits di atas ditujukan kepada orang yang tidak membai’at penguasa yang telah ditunjuk dan disepakati oleh ahlul halli wal ‘aqdi.” [Lihat Silsilatul Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 984)]

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ketika menjawab pertanyaan Ishaq bin Ibrahim bin Hani tentang hadits di atas. Beliau (Imam Ahmad) menjawab, “Yang dimaksud dengan Imam adalah yang kaum Muslimin seluruhnya berkumpul untuk membai’atnya, itu adalah Imam dan demikianlah makna hadits ini.” Tidak sebagaimana yang diklaim oleh setiap jama’ah atau kelompok. [As-Sirâjul Wahhâj fii Bayânil Minhâj (no. 181), oleh Abul Hasan Mushthafa bin Isma’il as-Sulaimani al-Mishri, cet. I/Maktabah al-Furqan, th. 1420 H]

Al-Katsiri dalam kitabnya, Faidhul Bâri berkata, “Ketahuilah bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa yang dianggap bai’at yang sah adalah yang dibai’at oleh seluruh kaum Muslimin. Kalau seandainya ada dua orang atau tiga orang yang membai’at, maka hal itu tidak dikatakan Imam sampai dibai’at oleh kaum Muslimin atau ahlul halli wal ‘aqdi.” [Faidhul Bâri (IV/59), dikutip dari Nashîhah Dzahabiyyah ilal Jamâ’aatil Islâmiyyah (hlm. 10) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, ta’liq dan takhrij Syaikh Masyhur Hasan Salman, cet. I/Daar ar-Raayah, th. 1410 H]

Jadi ancaman tentang orang yang meninggalkan bai’at diancam dengan mati Jahiliyyah itu berlaku bagi orang yang tidak berbai’at kepada imam yang berkumpul padanya seluruh kaum Muslimin atau yang diwakilkan oleh ahlul halli wal ‘aqdi. Adapun yang dilakukan oleh kelompok-kelompok (jama’ah-jama’ah) adalah bai’at yang bid’ah yang harus ditinggalkan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hudzaifah Radhiyallahu anhu, yaitu ketika tidak adanya jama’ah dan imam, maka ia harus meninggalkan semua jama’ah.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

…تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُمْ، فَقُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ، فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذٰلِكَ
.

… Hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama‘ah dan imam kaum Muslimin.” Kemudian Hudzaifah Radhiyallahu anhu bertanya: “Bagaimana kalau mereka sudah tidak mempunyai jama’ah dan imam lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun harus menggigit akar pohon, hingga engkau mati dalam keadaan seperti itu.” [HR. Al-Bukhari (no. 7084) dalam Kitaabul Fitan bab Kaifal Amr idzaa Lam Takun Jamaa’ah (bab: Bagaimana Urusan Kaum Muslimin Apabila Tidak Ada Jama’ah), Muslim (no. 1847) dalam Kitaabul Imaarah bab Wujuub Mulaazamah Jamaa’atil Muslimiin ‘inda Zhuhuuril Fitan wa fi Kulli Haal wa Tahriimil Khuruuj ‘alath ada Thaa’ati wa Mufaaraqatil Jamaa’ah (bab: Keharusan Mengikuti Jama’ah Kaum Muslimin Ketika Terjadi Fitnah dalam Segala Kondisi, dan Diharamkannya Membangkang (Tidak Taat kepada Ulil Amri) dan Meninggalkan Jama’ah)]

🌍Sumber: almanhaj(dot)or(dot)id
_______
🔊Silahkan disebar, semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum..

➖➖➖●◎○◎●➖➖➖
Kemuslimahan Rumah Amal Muwahhidin (RAM)

📲 instagram.com/kemuslimahan_ram
📲 facebook.com/ram.kemuslimahan
📲 www.ram.or.id/