Maret 18, 2019


[ Lihatlah Siapa Temanmu ]

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628)

Wahai saudariku, demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan petunjuk kepada kita agar senantiasa memilih teman-teman yang shalih dan waspada dari teman-teman yang buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan contoh dengan dua permisalan ini dalam rangka menjelaskan bahwa seorang teman yang shalih akan memberikan manfaat bagi kita di setiap saat kita bersamanya. Sebagaimana penjual minyak wangi yang akan memberikan manfaat bagi kita, berupa pemberian minyak wangi, atau minimal jika kita duduk bersamanya, kita akan mencium bau wangi.

Manfaat Berteman dengan Orang yang Shalih

Berteman dengan teman yang shalih, duduk-duduk bersamanya, bergaul dengannya, mempunyai keutamaan yang lebih banyak dari pada keutamaan duduk dengan penjual minyak wangi. Karena duduk dengan orang shalih bisa jadi dia akan mengajari kita sesuatu yang bermanfaat untuk agama dan dunia kita serta memberikan nashihat-nashihat yang bermanfaat bagi kita. Atau dia akan memberikan peringatan kepada kita agar menghindari perkara-perkara yang membahayakan kita.

Teman yang shalih senantiasa mendorong kita untuk melakukan ketaatan kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, dan mengajak kita untuk senantiasa berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, ataupun dengan sikapnya. Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman duduknya, dalam hal tabiat dan perilaku. Keduanya saling terikat satu sama lain dalam kebaikan ataupun yang sebaliknya. ( Bahjah Quluubil Abrar, 119 )

Jika kita tidak mendapat manfaat di atas, minimal masih ada manfaat yang bisa kita peroleh ketika berteman dengan orang yang shalih, yaitu kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatan jelek dan maksiat. Teman yang shalih akan selalu menjaga persahabatan, senantiasa mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, berusaha menghilangkan keburukan. Dia juga akan menjaga rahasia kita, baik ketika kita bersamanya maupun tidak. Dia akan memberikan manfaat kepada kita berupa kecintaannya dan doanya pada kita, baik kita masih hidup maupun setelah mati. ( Bahjatu Quluubil Abrar, 119 )

Wahai saudariku, sungguh manfaat berteman dengan orang yang shalih tidak terhitung banyaknya. Dan begitulah seseorang, akan dinilai sesuai dengan siapakah yang menjadi teman dekatnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Seseorang itu menurut agama teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” ( HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927 )

Bahaya Teman yang Buruk

Jika berteman dengan orang yang shalih dapat memberikan manfaat yang sangat banyak, maka berteman dengan teman yang buruk memberikan akibat yang sebaliknya. Orang yang bersifat jelek dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan bagi orang yang bergaul bersamanya. Sungguh betapa banyak kaum yang hancur karena sebab keburukan-keburukan mereka, dan betapa banyak orang yang mengikuti sahabat-sahabat mereka menuju kehancuran, baik sadar ataupun tidak sadar. ( Bahjatu Qulubil Abrar, 120 )

Oleh karena itulah, sungguh di antara nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman adalah Allah memberinya taufiq berupa teman yang baik. Sebaliknya, di antara ujian bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. ( Bahjah Qulubil Abrar, 120 )

Berteman dengan orang shalih akan memperoleh ilmu yang bermanfaat, akhlak yang utama dan amal yang shalih. Adapun berteman dengan orang yang buruk akan mencegahnya dari hal itu semua.

Jangan Sampai Menyesal

Allah Ta’ala berfirman

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang dzalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” ( QS. Al Furqan: 27-29 )

Sebagaimana yang sudah masyhur di kalangan ulama ahli tafsir, yang dimaksud dengan orang yang dzalim dalam ayat ini adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, sedangkan si fulan yang telah menyesatkannya dari petunjuk Al Qur’an adalah Umayyah bin Khalaf atau saudaranya Ubay bin Khalaf. Akan tetapi secara umum, ayat ini juga berlaku bagi setiap orang yang dzalim yang telah memilih mengikuti shahabatnya untuk kembali kepada kekafiran setelah datang kepadanya hidayah Islam. Sampai akhirnya dia mati dalam keadaan kafir sebagaimana yang terjadi pada ‘Uqbah bin Abi Mu’ith. ( Adhwa’ul Bayan, 6/45 )

Begitulah Allah Ta’ala telah menjelaskan betapa besarnya pengaruh seorang teman dekat bagi seseorang, hingga seseorang dapat kembali kepada kekafiran setelah dia mendapatkan hidayah islam disebabkan pengaruh teman yang buruk. Oleh karena itulah sudah sepantasnya setiap dari kita waspada dari teman-teman yang mempunyai perangai buruk.

🌎Sumber: Muslimah(dot)or(dot)id

___
🔊Silahkan disebar, semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum..

➖➖➖●◎○◎●➖➖➖
🌷Kemuslimahan Rumah Amal Muwahhidin (RAM)🌷
📷 instagram.com/kemuslimahan_ram
📲facebook.com/ram.kemuslimahan
🌎 http://www.ram.or.id/



Maret 15, 2019



Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 11 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


🗓 Waktu terbit: Jum'at, 8 Rajab 1440 H | 15 Maret 2019
🖋 Judul: "Kaum Musyrikin akan Selalu Memusuhi Islam (Sesi 2)"
👤 Oleh: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله

📜 File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 11#4 - Kaum Musyrikin akan Selalu Memusuhi Islam (Sesi 2)

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak




Maret 11, 2019



[Bersusah payah dan Berletih-letih menuntut ilmu]

Para ulama sering menyebutkan hal ini salah satunya adalah Yahya bin Abi Katsir rahimahullah, beliau berkata,

ولا يستطاع العلم براحة الجسد

“Ilmu tidak akan diperoleh dengan tubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)” [Jaami’u bayaanil ‘ilmi wa fadhlihi  I/348 no.553, Darul Ibnu Jauzi, cet.I, 1414 H, syamilah]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

لا يطلب هذا العلم من يطلبه بالتملل وغنى النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلة النفس، وضيق العيش، وخدمة العلم، أفلح

“Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanya kemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.” [Tadribur Rawi 2/584, Darut Thayyibah, Syamilah]

Abu ‘Amr bin Ash-Shalah menceritakan biografi Imam Muslim rahimahullah, beliau berkata,

وَكَانَ لمَوْته سَبَب غَرِيب نَشأ عَن غمرة فكرية علمية

“tentang sebab wafatnya (imam muslim) adalah suatu yang aneh, timbul karena kepedihan/kesusahan hidup dalam ilmu.” [Shiyanah Shahih Muslim hal. 62, darul Gharbil Islamiy, Beirut, cet.II, 1408 H, Syamilah]

Yahya Abu zakaria berkata,

وذكر لي عمي عبيد الله قال: قفلت من خراسان ومعي عشرون وقرا من الكتب، فنزلت عند هذا البئر -يعني: بئر مجنة- فنزلت عنده اقتداء بالوالد

“Pamanku Ubaidillah bercerita kepadaku, “aku kembali dari Khurasan dan bersamaku ada 20 beban berat yang berisikan buku-buku. Aku singgah di sebuah sumur –yaitu sumur Majannah- aku lakukan karena mencontoh ayahku.” [Siyar A’lam An-nubala 12/503 Darul Hadits, koiro, 1427 H, syamilah]

Imam Syafi’i rahimahullah berkata,

ما أفلح فى العلم إلا من طلبه فى القلة، ولقد كنت أطلب القرطاس فيعسر علىَّ. وقال: لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح

“tidak akan beruntung orang yang menuntut ilmu, kecuali orang yang menuntutnya dalam keadaan serba kekurangan aku dahulu mencari sehelai kertaspun sangat sulit. Tidak mungkin seseorang menuntut ilmu dengan keadaan serba ada dan harga diri yang tinggi kemudian ia beruntung.” [Tahdzib Al-Asma’ wa Al-Lughat  hal. 54, Darul Kutub ‘Ilmiyah, Beirut, Syamilah]


Maka bandingkanlah dengan upaya kita menuntut ilmu sekarang?

Menahan lapar

Abdurrahman bin Abu Zur’ah berkata, saya mendengar ayahku berkata,

بقيت بالبصرة في سنة أربع عشرة ومائتين ثمانية أشهر وكان في نفسي أن أقيم سنة فانقطع نفقتي فجعلت أبيع ثياب بدني شيئا بعد شيء حتى بقيت بلا نفقة ومضيت أطوف مع صديق لي إلى المشيخة وأسمع منهم إلى المساء فانصرف رفيقي ورجعت إلى بيت خال فجعلت أشرب الماء من الجوع ثم أصبحت من الغد وغدا علي رفيقي فجعلت أطوف معه في سماع الحديث على جوع شديد فانصرف عني وانصرفت جائعا  فلما كان من الغد غدا علي فقال مر بنا إلى المشايخ   قلت أنا ضعيف لا يمكنني قال ما ضعفك قلت لا أكتمك أمري قد مضى يومان ما طعمت فيهما

“Aku menetap di Bashrah pada tahun 214 Hijriyah. Sebenarnya aku ingin menetap di sana selama setahun. Namun perbekalanku telah habis dan terpaksa aku menjual bajuku helai demi helai, sampai akhirnya aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi aku terus pergi bersama teman-temanku kepada para syaikh dan aku belajar kepada mereka hingga sore hari. Ketika teman-temanku telah pulang, aku pulang ke rumahku dengan tangan hampa dan Cuma minum air untuk mengurangi rasa laparku. Keesokan harinya teman-temanku datang dan aku pergi belajar bersama mereka untuk mendengar hadits dengan menahan rasa lapar yang sangat. Keesokan harinya lagi mereka datang lagi dan mengajakku pergi. Aku berkata, “aku sangat lemah dan tidak bisa pergi”. Merek berkata, “apa yang membuatmu lemah?”. Aku berkata, “tidak mungkin kau sembunyikan dari kalian, aku belum makan apa-apa sejak dua hari yang lalu.”.”[6]

Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullah berkata,

وكنت أقتات بخرنوب الشوك، وقمامة البقل، وورق الخس من جانب النهر والشط، وبلغت الضائقة في غلاء نزل ببغداد إلى أن بقيت أياما لم آكل فيها طعاما، بل كنت أتتبع المنبوذات أطعمها، فخرجت يوما من شدة الجوع إلى الشط لعلي أجد ورق الخس أو البقل، أو غير ذلك فأتقوت به. فما ذهبت إلى موضع إلا وغيري قد سبقني إليه وإن وجدت أجد الفقراءيتزاحمون عليه فأتركه حبا

“Aku memunguti selada, sisa-sisa sayuran dan daun carob dari tepi kali dan sungai. Kesulitan yang menimpaku karena melambungnya harga yang terjadi di Baghdad membuatku tidak makan selama berhari-hari. Aku hanya bisa memunguti sisa-sisa makanan yang terbuang untukku makan. Suatu hari, karena saking laparnya, aku pergi ke sungai dengan harapan mendapatkan daun carob, sayuran, atau selainnya yang bisa ku makan. Tidaklah aku mendatangi suatu tempat melainkan ada orang lain yang telah mendahuluinya. Ketika aku mendapatkannya,maka aku melihat orang-orang miskin itu memperebutkannya. Maka, aku pun membiarkannya, karena mereka lebih membutuhkan.” [Dzail Thabaqat Hanabilah 2/203-204, Maktabah Abikan, Riyadh, 1425 H, Syamilah]

Ibrahim bin Ya’qub berkata,

كان أَحْمَد بن حنبل يصلي بعبد الرزاق فسها يوما فِي صلاته فسأله عبد الرزاق فأخبره أنه لم يطعم شيئًا منذ ثلاث

“Imam Ahmad bin Hambal shalat bersama Abdurrazzaq. Suatu hari ia lupa dalam shalatnya. Maka Abdurrazzaq bertanya mengapa ia bisa lupa. Dia (Imam Ahmad) memberitahu bahwa ia belum makan apa-apa sejak tiga hari yang lalu.” [Thabaqat Al-Hanabilah hal. 99, Darul Ma’rifah, Beirut, Syamilah]

Sufyan bin ‘uyainah berkata,

جَاعَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ جُوعًا شَدِيدًا مَكَثَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ لَا يَأْكُلُ شَيْئًا فَمَرَّ بِدَارٍ فِيهَا عُرْسٌ فَدَعَتْهُ نَفْسُهُ إِلَى أَنْ يَدْخُلَ فَعَصَمَهُ اللهُ وَمَضَى إِلَى مَنْزِلِ ابْنَتِهِ فَأَتَتْهُ بِقُرْصٍ فَأَكَلَهُ وَشَرِبَ مَاءً فَتَجَشَّى

“Sufyan Ats-Tsauri pernah merasa sangat lapar. Sudah tiga hari ia tidak makan apapun. Ketika melewati sebuah rumah yang ada pesta di dalamnya. Dia terdorong ingin datang ke sana namun Allah menjaganya (karena haram hukumnya datang jika tidak diundang –pent), akhirnya ia menuju ke rumah putrinya. Putrinya menyuguhkan roti yang bulat pipih, kemudian ia memakannya dan meminum air hingga bersendahawa.” [Hilyatul Aulia’ 6/373, Darul Kitab Al-‘Arabiy, Beirut, Syamilah]

Penyusun: Raehanul Bahraen

🌍Sumber: Artikel muslimafiyah(dot)com

---
Rumah Amal Muwahhidin
Jl. HOS Cokroaminoto (Merdeka Timur) Gg.Bersatu No.32 Pontianak, Kalimantan Barat

Tetap terhubung bersama RAM, kunjungi:
✓ https://www.ram.or.id
✓ https://www.facebook.com/rampontianak
✓ https://www.instagram.com/rampontianak
✓ https://www.twitter.com/rampontianak



Maret 09, 2019


[ Coming Soon Kajian Intensif membahas Lanjutan kitab Ushul Tsalatsah di Pontianak bersama Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam ]

🎯 Insyaallah kajian akan dilaksanakan di bulan Rajab 1440 H (Maret 2019).

Inti dari kitab yg akan dibahas ini meliputi lima hal pokok berikut:

1⃣ Tiga pertanyaan di alam kubur dan jawabannya, disertai dengan dalil-dalilnya.

2⃣ Di dalamnya juga terdapat penjelasan tiga macam tauhid sekaligus, yaitu: Tauhid Uluhiyyah, Rububiyyah, dan Al-Asma’ wash Shifat, walaupun penekanannya adalah pembahasan Tauhid Uluhiyyah, adapun penjelasan kedua macam tauhid yang lainnya disebutkan secara sekilas.

3⃣ Penjelasan tentang agama Islam dan tingkatannya, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan.

4⃣ Penjelasan tentang Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan ajaran terpenting yang dibawa oleh beliau serta sikap yang benar kepada beliau.

5⃣ Iman terhadap hari Kebangkitan dan penjelasan inti dakwah seluruh Rasul alaihimush shalaatu was salaam, yaitu Tauhid Uluhiyyah.

📝 Pada kajian intensif sebelumnya telah selesai membahas ushul yang pertama yaitu Mengenal Allah dan ushul yang kedua Mengenal Islam. Pada intensif kali ini kita akan lanjutkan pembahasan ushul yang ketiga yaitu Mengenal Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, insyaallah.

📖 Kajian intensif kitab ushul tsalatsah ini insyaallah akan diisi oleh Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam حفظه الله تعالى

Sekilas tentang pemateri

Dalam pendidikan formal, beliau pernah mengenyam D3 Pendidikan Matematika UGM. Sedangkan dalam mendalami pendidikan bahasa arab dan agama, beliau pernah mengenyam pendidikan di beberapa pesantren di Indonesia serta Darul Hadits di Yaman.

Aktifitas dakwah saat ini, beliau merupakan pengajar di Pesantren Ihya As-Sunnah Tasikmalaya, pemateri tetap majelis ta'lim di beberapa daerah di Jawa, serta pemateri tetap di Insan TV. Beliau juga memiliki buah karya buku yang berjudul 'Mutiara Faidah Kitab Tauhid'.

Demikian, semoga Allah mudahkan kita untuk mengambil manfaat dari majelis ilmu ini, allahumma aamiin.

════ ❁✿❁ ════

Bagi yang ingin berkontribusi pada kegiatan ini baik moril maupun materil dapat menghubungi +62 821-4848-2033 (CP Panitia Kajian Intensif).

Bantuan materil dapat langsung ke sekretariat Yayasan RAM atau dapat ditransfer melalui rekening yayasan: 

| Bank Syariah Mandiri (kode bank: 451)
| atas nama Yayasan Rumah Amal Muwahhidin
| Nomor Rekening 3333.8888.22

📲 Kemudian diharapkan konfirmasi dengan mengirimkan SMS atau WA ke nomor +62 821-4848-2033 dengan format:
NAMA#TUJUAN_DONASI#JLH_TRANSFER

Contoh: Abdullah#Donasi kegiatan dauroh# Rp. 1.000.000,-

Jazaakumullahu khairan

════ ❁✿❁ ════

Info lebih lanjut hubungi:
📞✉ +62 821-4848-2033

Yuk bantu share! Semoga menjadi amal kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang terjemahnya:

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2674)



Maret 08, 2019


Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 10 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


🗓 Waktu terbit: Jum'at, 1 Rajab 1440 H | 8 Maret 2019
🖋 Judul: "Kaum Musyrikin akan Selalu Memusuhi Islam (Sesi 1)"
👤 Oleh: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حفظه الله

📜 File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 10#4 - Kaum Musyrikin akan Selalu Memusuhi Islam (Sesi 1)

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak




Maret 01, 2019


Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 9 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


🗓 Waktu terbit: Jum'at, 24 Jumadil Akhir 1440 H | 1 Maret 2019
🖋 Judul: "Apa itu Tauhid?"
👤 Oleh: Ustadz Ari Wahyudi حفظه الله

📜 File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 9#4 - Apa itu Tauhid?

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak




Februari 22, 2019



Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 8 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


🗓 Waktu terbit: Jum'at, 17 Jumadil Akhir 1440 H | 22 Februari 2019
🖋 Judul: "Hakikat dan Kedudukan Tauhid"
👤 Oleh: Ustadz Hamdi Abu Abdillah حفظه الله

📜 File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 8#4 - Hakikat dan Kedudukan Tauhid

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak