Mei 26, 2019


๐ŸŒผI’tikaf bagi wanita๐ŸŒผ

Wanita dianjurkan untuk meningkatkan intensitas ibadah pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan untuk mencari kebaikan dan meraih keutamaan lailatul qadr, sama seperti laki-laki. Bahkan, pada 10 malam terakhir ini, laki-laki dianjurkan membangunkan istrinya untuk melaksanakan shalat malam. ‘Aisyah radhiyallahu ’anha berkata,

ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َ ุงู„ْุนَุดْุฑُ ุดَุฏَّ ู…ِุฆْุฒَุฑَู‡ُ ูˆَุฃَุญْูŠَุง ู„َูŠْู„َู‡ُ ูˆَุฃَูŠْู‚َุธَ ุฃَู‡ْู„َู‡ُ

“Jika masuk 10 hari terakhir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kainnya, menghidupkan malam, dan membangunkan istri (keluarga)nya.” (HR. Al-Bukhari No. 2024, Muslim No. 1174) Tujuannya untuk meraih keutamaan malam lailatul qadr, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ุชุญِุฑُูˆْุง ู„َูŠْู„َุฉَ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ ูِูŠْ ุงู„ْูˆِุชْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุดْุฑِ ุงู„ْุฃَูˆَุงุฎِุฑِ ู…ِู†ْ ุฑَู…َุถَุงู†َ

“Carilah lailatul qadr pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari No. 2017, Muslim No. 1169)

ู…َู†ْ ู‚َุงู…َ ู„َูŠْู„َุฉ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ ุฅِูŠْู…َุงู†ًุง ูˆَุงุญْุชِุณَุงุจًุง ุบَูَุฑَ ู„َู‡ُ ู…َุง ุชَู‚َุฏَّู…ّ ู…ِู†ْ ุฐَู†ْุจِูƒَ

“Barangsiapa yang shalat malam pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari No. 2014, Muslim No. 760)

Disyari’atkannya i’tikaf bagi wanita

Aisyah radhiyallahu ’anha mengatakan bahwa ketika Rasulullah menyampaikan akan ber-i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, ia segera meminta izin kepada beliau untuk ber-i’tikaf dan Rasulullah shallaallahu ’alahi wa sallam mengizinkannya. (HR. Al-Bukhari no. 2045 dan Muslim no. 1172)

Dalam riwayat lain, ‘Aisyah berkata,

ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูƒَุงู†َ ูŠَุนْุชَูƒِูُ ุงู„ْุนَุดْุฑَ ุงู„ْุฃَูˆَุงุฎِุฑَ ู…ِู†ْ ุฑَู…َุถَุงู†َ ุญَุชَّู‰ ุชَูˆَูَّุงู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุซُู…َّ ุงุนْุชَูƒَูَ ุฃَุฒْูˆَุงุฌُู‡ُ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِ

 “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam selalu ber-i’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. Sepeninggal beliau, istri-istri beliaupun melakukan i’tikaf.” (HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Berikut ini penjelasan tentang beberapa hukum yang berkaitan dengan i’tikaf bagi wanita :

Harus dengan izin suami
Wanita tidak boleh ber-i’tikaf, kecuali setelah mendapat izin dari suaminya. Dalam riwayat di atas dijelaskan bahwa ‘Aisyah, Hafshah, dan Zainab meminta izin kepada Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam untuk melakukan i’tikaf.

Ketika suami meminta istri membatalkan i’tikaf-nya
Apabila i’tikaf yang dilakukan istrinya adalah i’tikaf sunnah, maka suaminya boleh memintanya membatalkan i’tikaf, tetapi jika yang dikerjakan adalah i’tikaf wajib, seperti i’tikaf nazar yang dinazarkan dilakukan secara berturut-turut (i’tikaf pada 10 hari terakhir), dan sebelumnya mendapat izin suami maka suaminya tidak dapat membatalkan i’tikaf-nya. Namun, jika tidak disyaratkan berturut-turut maka suami dapat membatalkan i’tikaf-nya, kemudian menyempurnakan nazarnya dengan ber-i’tikaf di kesempatan yang lain.

I’tikaf hanya boleh dilakukan di dalam masjid
Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَุฃًู†ْุชُู…ْ ุนَุงูƒِูُูˆْู†َ ูِูŠْ ุงู„ْู…َุณَุงุฌِุฏِ

“Sedang kamu beri’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri-istri beliau pun melakukan i’tikaf di dalam masjid. Seorang wanita tidak boleh ber-i’tikaf di ruang shalat yang ada di rumahnya (Al-Mughala, 5/193) dan tidak diharuskan mengikuti shalat berjamaah di dalam masjid karena hukum shalat berjamaah tidak wajib baginya (Al-Mughni 3/189).

Wanita yang ber-i’tikaf di masjid harus dalam ruang tertutup
Ketika istri-istri Rasulullah hendak ber-i’tikaf, mereka menyuruh dibuatkan semacam kemah khusus untuknya di dalam masjid. Selain itu, masjid merupakan tempat umum yang selalu didatangi oleh kaum laki-laki dan sebaiknya mereka tidak saling melihat. Jika hendak membuat ruang khusus tersebut maka jangan mengambil tempat shalat kaum laki-laki karena akan memutus shaf dan mempersempit tempat shalat mereka (Al-Mughni 3/191).

Sibuk dengan ketaatan
Selama i’tikaf, dianjurkan untuk menyibukkan diri dengan berbagai macam ketaatan kepada Allah Ta’ala, seperti shalat, membaca Alquran, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istigfar (memohon ampun), membaca shalawat (yang dicontohkan), berdoa, dan bentuk ketaatan lainnya.

Selama i’tikaf dimakruhkan menyibukkan diri dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Juga dimakruhkan menahan diri dari berbicara (puasa bicara) dengan anggapan perbuatan ini adalah ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala (Fiqhus Sunnah 1/404).

Boleh keluar jika mendesak
‘Amrah menceritakan, “Ketika ber-i’tikaf, ‘Aisyah radhiyallahu ’anha pergi ke rumah jika ada keperluan, lalu mengunjungi orang sakit sejenak untuk bertanya tentang keadaannya. Hal ini ia lakukan sambil berlalu tanpa menghentikan langkahnya.” (Mushannaf Abdurrazzaq (no. 8055) dengan sanad yang shahih).

Akan tetapi, jika ia meninggalkan tempat i’tikaf tanpa keperluan yang jelas maka i’tikaf-nya batal.

Berhubungan badan membatalkan i’tikaf
Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَู„َุง ุชُุจَุงุดِุฑُูˆْู‡ُู†َّ ูˆَุฃًู†ْุชُู…ْ ุนَุงูƒِูُูˆْู†َ ูِูŠْ ุงู„ْู…َุณَุงุฌِุฏِ

 “Dan janganlah mencampuri mereka, sedang kamu ber–i’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Seluruh ulama sepakat, bahwa orang yang sedang ber-i’tikaf tidak boleh bercumbu dengan istrinya, meskipun hanya menciumnya atau selainnya.

Boleh menyentuh suami
Dibolehkan menyentuh suami tanpa disertai syahwat, seperti membasuh kepala, menyisir rambut, atau memberi sesuatu padanya.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memiringkan kepalanya kepadaku ketika beliau sedang tinggal di dalam masjid (i’tikaf), lalu aku menyisir rambutnya, sedangkan aku sendiri ketika itu sedang haid. (HR. Al-Bukhari no. 2029)

Istihadah, boleh i’tikaf
Wanita yang mengalami istihadah boleh ber-i’tikaf jika ia dapat menjaga kebersihan masjid. ‘Aisyah radhiyallahu ’anha meriwayatkan, “Seorang istri Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yang sedang istihadah ikut ber-i’tikaf bersama beliau. Ia dapat melihat warna merah dan kuning yang keluar darinya sehingga terkadang kami meletakkan wadah di bawahnya ketika ia sedang shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 2037 dan Muslim no. 2476)

Boleh temui suami di tempat i’tikaf
Berdasarkan hadits Shafiyyah, istri Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa ia pernah menemui Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam ketika beliau tinggal di masjid pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Ia bercakap-cakap beberapa saat dengan beliau lalu beranjak pulang. Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam pun bangkit untuk mengantarnya, hingga ketika sampai di pintu masjid yang berdekatan dengan pintu rumah Ummu Salamah (HR. Al-Bukhari no. 2053 dan Muslim no. 2175)

Tetap boleh dilamar atau dinikahi
Wanita yang sedang melaksanakan i’tikaf boleh dilamar maupun dinikahi, yang terlarang adalah berhubungan badan.



Disarikan dari Fiqh Sunnah Wanita hlm. 318-320, karya Syaikh Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim.

๐ŸŒŽSumber: Muslimah(dot)or(dot)id

๐ŸทSilakan disebar semoga bermanfaat. Barakallahu fiikum
➖➖➖◎◎➖➖➖
๐ŸŒทKemuslimahan Rumah Amal Muwahhidin (RAM)๐ŸŒท
๐Ÿ“ท instagram.com/kemuslimahan_ram
๐Ÿ“ฒfacebook.com/ram.kemuslimahan
๐ŸŒŽ http://www.ram.or.id/




Perbanyaklah Doa di Malam Lailatul Qadar

Apa do’a yang dianjurkan banyak dibaca pada malam lailatul qadar?

Ada do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut yaitu do’a: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).

 ุนَู†ْ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ู‚َุงู„َุชْ ู‚ُู„ْุชُ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَุฑَุฃَูŠْุชَ ุฅِู†ْ ุนَู„ِู…ْุชُ ุฃَู‰ُّ ู„َูŠْู„َุฉٍ ู„َูŠْู„َุฉُ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ ู…َุง ุฃَู‚ُูˆู„ُ ูِูŠู‡َุง ู‚َุงู„َ  ู‚ُูˆู„ِู‰ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†َّูƒَ ุนَูُูˆٌّ ุชُุญِุจُّ ุงู„ْุนَูْูˆَ ูَุงุนْูُ ุนَู†ِّู‰

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini dibawakan oleh Imam Tirmidzi dalam bab “Keutamaan meminta maaf dan ampunan pada Allah”. Hadits di atas disebutkan pula oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Marom pada hadits no. 706.


Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits di atas tentang anjuran memperbanyak do’a “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat lailatul qadar. Do’a di atas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Do’a tersebut mengandung ketundukan hamba pada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam lailatul qadar saja.” (Fadho-ilul Awqot, hal. 258).

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

ูˆ ุฅู†ู…ุง ุฃู…ุฑ ุจุณุคุงู„ ุงู„ุนููˆ ููŠ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ุจุนุฏ ุงู„ุฅุฌุชู‡ุงุฏ ููŠ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ููŠู‡ุง ูˆ ููŠ ู„ูŠุงู„ูŠ ุงู„ุนุดุฑ ู„ุฃู† ุงู„ุนุงุฑููŠู† ูŠุฌุชู‡ุฏูˆู† ููŠ ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุซู… ู„ุง ูŠุฑูˆู† ู„ุฃู†ูุณู‡ู… ุนู…ู„ุง ุตุงู„ุญุง ูˆ ู„ุง ุญุงู„ุง ูˆ ู„ุง ู…ู‚ุงู„ุง ููŠุฑุฌุนูˆู† ุฅู„ู‰ ุณุคุงู„ ุงู„ุนููˆ ูƒุญุงู„ ุงู„ู…ุฐู†ุจ ุงู„ู…ู‚ุตุฑ

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam lailatul qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa.”

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ู„ูŠุณ ุจุนุงุฑู ู…ู† ู„ู… ูŠูƒู† ุบุงูŠุฉ ุฃู…ู„ู‡ ู…ู† ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนููˆ

“Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363).

Hadits ‘Aisyah di atas juga menunjukkan bahwa do’a di malam lailatul qadar adalah do’a yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasul mengenai do’a apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdo’a pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam do’a terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Ya Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk do’a semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat  Allah yang sesuai dengan isi do’a.

Dalil di atas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah di antara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat hamba. Begitu pula hadits tersebut menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapa sifat di sini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu a’lam.

Semoga Allah memberi taufik pada kita untuk memperbanyak do’a yang sedang kita kaji ini di penghujung Ramadhan.

๐ŸทSumber: Rumaysho(dot)com
____
 Rumah Amal Muwahhidin
Jl. HOS Cokroaminoto (Merdeka Timur) Gg.Bersatu No.32 Pontianak, Kalimantan Barat

Tetap terhubung bersama RAM, kunjungi:
✓ https://www.ram.or.id
✓ https://www.facebook.com/rampontianak
✓ https://www.instagram.com/rampontianak
✓ https://www.twitter.com/rampontianak



Mei 17, 2019


Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 20 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


๐Ÿ—“ Waktu terbit: Jum'at, 11 Ramadhan 1440 H | 17 Mei 2019
๐Ÿ–‹ Judul: "Jagalah Dirimu dari Perkara yang Mutasyabihat"
๐Ÿ‘ค Oleh: Ustadz Rizki Amipon Dasa ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

๐Ÿ“œ File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 20#4 - Jagalah Dirimu dari Perkara yang Mutasyabihat

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak




Mei 12, 2019



Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 19 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


๐Ÿ—“ Waktu terbit: Jum'at, 5 Ramadhan 1440 H | 10 Mei 2019
๐Ÿ–‹ Judul: "Nikmat Hidayah Islam"
๐Ÿ‘ค Oleh: Ustadz Ari Wahyudi ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

๐Ÿ“œ File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 19#4 - Nikmat Hidayah Islam

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak






[ Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia ]

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar, 

ุฑُุจَّ ุตَุงุฆِู…ٍ ุญَุธُّู‡ُ ู…ِู†ْ ุตِูŠَุงู…ِู‡ِ ุงู„ุฌُูˆْุนُ ูˆَุงู„ุนَุทَุดُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi –yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya). 

Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?

Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia –semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.

1. Berkata Dusta (az zuur) 

Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja. 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฏَุนْ ู‚َูˆْู„َ ุงู„ุฒُّูˆุฑِ ูˆَุงู„ْุนَู…َู„َ ุจِู‡ِ ูَู„َูŠْุณَ ู„ِู„َّู‡ِ ุญَุงุฌَุฉٌ ูِู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุฏَุนَ ุทَุนَุงู…َู‡ُ ูˆَุดَุฑَุงุจَู‡ُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903). 
Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

2. Berkata lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno) 

Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats. 
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ู„َูŠْุณَ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ู…ِู†َ ุงู„ุฃَูƒْู„ِ ูˆَุงู„ุดَّุฑَุจِ ، ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ู…ِู†َ ุงู„ู„َّุบْูˆِ ูˆَุงู„ุฑَّูَุซِ ، ูَุฅِู†ْ ุณَุงุจَّูƒَ ุฃَุญَุฏٌ ุฃَูˆْ ุฌَู‡ُู„َ ุนَู„َูŠْูƒَ ูَู„ْุชَู‚ُู„ْ : ุฅِู†ِّูŠ ุตَุงุฆِู…ٌ ، ุฅِู†ِّูŠ ุตَุงุฆِู…ٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih) 
Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,

ุงู„ู„َّุบْูˆ ุงู„ْูƒَู„َุงู… ุงู„َّุฐِูŠ ู„َุง ุฃَุตْู„ ู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ุงู„ْุจَุงุทِู„ ูˆَุดَุจَู‡ู‡

“Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.” 
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,

ูˆَูŠُุทْู„َู‚ ุนَู„َู‰ ุงู„ุชَّุนْุฑِูŠุถ ุจِู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุงู„ْูُุญْุด ูِูŠ ุงู„ْู‚َูˆْู„

“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”

Al Azhari mengatakan,

ุงู„ุฑَّูَุซ ุงِุณْู… ุฌَุงู…ِุน ู„ِูƒُู„ِّ ู…َุง ูŠُุฑِูŠุฏู‡ُ ุงู„ุฑَّุฌُู„ ู…ِู†ْ ุงู„ْู…َุฑْุฃَุฉ

“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno. 
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

3. Melakukan Berbagai Macam Maksiat 

Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut : 
“Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat (yang sebenarnya mubah ketika di luar puasa seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, pen) tidak akan sempurnahingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)

Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus : 
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah) 
Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,

ุฃَู‡ْูˆَู†ُ ุงู„ุตِّูŠَุงู…ُ ุชَุฑْูƒُ ุงู„ุดَّุฑَุงุจِ ูˆَ ุงู„ุทَّุนَุงู…ِ

“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

Apakah dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?

Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut : 
“Mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”

Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya : 
“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).” 
Mala ‘Ali Al Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”

Kesimpulannya : Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, menfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga Di Balik Puasa Kalian

Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini. 
Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 ูƒُู„ُّ ุนَู…َู„ِ ุงุจْู†ِ ุขุฏَู…َ ูŠُุถَุงุนَูُ ุงู„ْุญَุณَู†َุฉُ ุนَุดْุฑُ ุฃَู…ْุซَุงู„ِู‡َุง ุฅِู„َู‰ ุณَุจْุนِู…ِุงุฆَุฉِ ุถِุนْูٍ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ุตَّูˆْู…َ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู„ِู‰ ูˆَุฃَู†َุง ุฃَุฌْุฒِู‰ ุจِู‡ِ ูŠَุฏَุนُ ุดَู‡ْูˆَุชَู‡ُ ูˆَุทَุนَุงู…َู‡ُ ู…ِู†ْ ุฃَุฌْู„ِู‰ 

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151) 

Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini. 
“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah berfirman,

ุฅِู†َّู…َุง ูŠُูˆَูَّู‰ ุงู„ุตَّุงุจِุฑُูˆู†َ ุฃَุฌْุฑَู‡ُู…ْ ุจِุบَูŠْุฑِ ุญِุณَุงุจٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi*). 
[* Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini dho’if , pen] 
Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi taqdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah,

ุฐَู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُุตِูŠุจُู‡ُู…ْ ุธَู…َุฃٌ ูˆَู„َุง ู†َุตَุจٌ ูˆَู„َุง ู…َุฎْู…َุตَุฉٌ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู„َุง ูŠَุทَุฆُูˆู†َ ู…َูˆْุทِุฆًุง ูŠَุบِูŠุธُ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑَ ูˆَู„َุง ูŠَู†َุงู„ُูˆู†َ ู…ِู†ْ ุนَุฏُูˆٍّ ู†َูŠْู„ًุง ุฅِู„َّุง ูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُู…ْ ุจِู‡ِ ุนَู…َู„ٌ ุตَุงู„ِุญٌ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠُุถِูŠุนُ ุฃَุฌْุฑَ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ

“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah [9] : 120).” –Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-

Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.

Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berdzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.

๐ŸŒŽSumber: Rumasysho(dot)com
_
๐Ÿ”ŠSilahkan disebar, semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum..

➖➖➖●◎○◎●➖➖➖
๐ŸŒทKemuslimahan Rumah Amal Muwahhidin (RAM)๐ŸŒท
๐Ÿ“ท instagram.com/kemuslimahan_ram
๐Ÿ“ฒfacebook.com/ram.kemuslimahan
๐ŸŒŽ http://www.ram.or.id/



Mei 10, 2019



┏๐Ÿƒ๐ŸŒป━━━━━━━━━━┓
         Donasi Kegiatan Semarak
     Ramadhan Muwahhidin 1440 H
 Yayasan Rumah Amal Muwahhidin
   ┗━━━━━━━━━━๐ŸŒป๐Ÿƒ┛
         
             ═══ ❁✿❁ ═══ 

                     ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…

๐ŸŽ Kesempatan Emas Beramal Shalih di Bulan Berkah
#Yuk berlomba-lomba dalam kebaikan ๐Ÿ‘‡

Alhamdulillah, kita bersyukur atas karunia yg telah diberikan oleh Allah ุณُุจْุญَุงู†َู‡ُ ูˆَ ุชَุนَุงู„َู‰ kepada kita selama ini.

Yayasan RAM selalu berkomitmen menyelenggarakan kegiatan tahunan yaitu Semarak Ramadhan Muwahhidin, adapun tujuan kegiatan ini untuk menebar kebaikan dan saling berlomba-lomba dalam kebaikan di bulan Ramadhan

Adapun rangkaian kegiatan Semarak Ramadhan Muwahhidin 1440 H Yayasan Rumah Amal Muwahhidin sebagai berikut:

1.) Berbagi Iftor Ramadhan+operasional

Bagi yang ingin berinfaq, caranya bisa: 
 Transfer ke No. Rek.  7118788464 a.n. PANRAM L. Rumah Amal Muwahhidin (Bank Syariah Mandiri ). (mohon sertakan kode transaksi 100)

Kemudian diharapkan konfirmasi dengan mengirimkan SMS atau WA ke nomor +62 821-5822-4044 dengan format:

NAMA#TUJUAN_DONASI#JLH_TRANSFER#ALAMAT.
Contoh: Abdullah#Donasi Iftor Ramadhan# Rp. 1.000.100,-#Pontianak.

2.) Bakti Sosial di Desa Mualaf dan Muslim Minoritas, Kec. Pahauman, Kab. Landak
⏳17-18 Ramadhan 1440 H (22-23 Mei 2019)

Adapun hal-hal yang dibutuhkan untuk kegiatan ini sebagai berikut:

1. Snack dan minuman Ifthor 200 paket, dana yang dibutuhkan Rp1.400.000 ,-

2. Nasi kotak 200 porsi (Dana yang dibutuhkan Rp. 5.000.000,-

3. Paket Sembako 80 Buah, dana yang dibutuhkan Rp. 8.000.000,-

4. Transportasi dana yang dibutuhkan Rp. 7.000.000,-

5. Keperluan Bakti Sosial perkampungan mu'alaf dan muslim minoritas di Kab. Landak di beberapa titik:
 ➖ Perkampungan Muallaf Dusun Otobasa Desa Keranji Paidang Kec.  Sengah Temila yaitu: 
a. Bukber dan Ceramah Agama, 
b. Pembagian paket Sembako, 
c. 150 keping atap seng Masjid Rp. 55.000 total Rp. 8.250.000,- 
d. Paku seng 5kg x Rp. 30.000,- total Rp. 150.000,- 
e. Batang kayu reng Mabang ukuran 5x7 Rp. 45.000 x 100 batang total Rp. 4.500.000,-
f. 1 buah Pintu WC Masjid Rp. 400.000,-

 ➖ Perkampungan Muslim Minoritas di Dusun Bandang Desa Keranji Kec.  Sengah Temila berupa: _Bukber dan ceramah agama,  pembagian paket sembako, Karpet plastik tebal ukuran 20 meter x Rp. 33.000 total Rp. 660.000
 ➖ Bantuan Prasarana tempat Ibadah Muallaf di Desa Banying berupa: Pembuatan SKT Tanah Wakaf bakal Bangunan Masjid.
Adapun dana yang dibutuhkan Rp. 500.000,-

6. Operasional kegiatan Rp. 7.000.000

Adapun total dana yang diperlukan sebesar Rp. 42.680.000,-

Untuk itu kami mengajak kaum muslimin untuk ikut andil dalam menginfaqkan sebagian rezekinya. Donasi bisa berbentuk Uang dan barang. Donasi ini dibuka hingga hari senin, 15 Ramadhan 1440 H | 20 Mei 2019 pukul 13.00 WIB.

Bagi yang ingin berinfaq, caranya bisa:
1⃣ ๐Ÿก Uang Cash atau barang ➡ langsung ke sekretariat RAM
2⃣ ๐Ÿ’ณ Transfer ke No. Rek.  7118788464 a.n. PANRAM L. Rumah Amal Muwahhidin (Bank Syariah Mandiri ). (Mohon sertakan kode transaksi 200)

Kemudian diharapkan konfirmasi dengan mengirimkan SMS atau WA ke nomor +62 821-5822-4044 dengan format:

NAMA#TUJUAN_DONASI#JLH_TRANSFER#ALAMAT_KEDIAMAN
Contoh: Abdullah#Donasi Bakti Sosial# Rp. 1.000.200,-#Pontianak


3.) I'tikaf di Masjid Al-Manar, Jalan Nurali, Pontianak
⏳10 Hari terakhir Ramadhan 1440 H (25 Mei - 2 Juni 2019)

Bagi yang ingin berinfaq, caranya bisa: 
 Transfer ke No. Rek.  7118788464 a.n. PANRAM L. Rumah Amal Muwahhidin (Bank Syariah Mandiri ). (mohon sertakan kode transaksi 300)

Kemudian diharapkan konfirmasi dengan mengirimkan SMS atau WA ke nomor +62 821-5822-4044 dengan format:

NAMA#TUJUAN_DONASI#JLH_TRANSFER#ALAMAT_KEDIAMAN
Contoh: Abdullah#Donasi I'tikaf# Rp. 1.000.300,-#Pontianak


Atas partisipasinya kami ucapkan ุฌุฒุงูƒ ุงู„ู„ู‡ُ ุฎูŠุฑًุง

Semoga Allah ุณُุจْุญَุงู†َู‡ُ ูˆَ ุชَุนَุงู„َู‰ senantiasa menerima dan membalas amal kebaikan kita, aamiin.

Allah Ta'ala berfirman yang artinya:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q. S. Al-Baqoroh: 261)

Info lebih lanjut hubungi: ๐Ÿ“ž✉ +62 857-2389-1321

---
๐ŸŒ Untuk informasi update kegiatan yayasan RAM, silahkan kunjungi website kami di:
http://www.ram.or.id

▶ Serta social media resmi Yayasan:
www.facebook.com/rampontianak
www.instagram.com/rampontianak
www.twitter.com/rampontianak

---
Mengetahui Pembina Yayasan RAM:
1⃣ Ustadz Dr. Abdullah Roy, Lc, MA
2⃣ Ustadz Abu Nasyhita Ridwan, A.Md, S.Pd.I

Yuk bantu share! Semoga menjadi amal kebaikan.

#SemarakRamadhanMuwahhidin
#1440Hijriyah



Mei 03, 2019


Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 18 Tahun ke-4

~~~~~~~~~~


๐Ÿ—“ Waktu terbit: Jum'at, 28 Sya'ban 1440 H | 3 Mei 2019
๐Ÿ–‹ Judul: "Aku Ingin Perubahan Pada Diriku"
๐Ÿ‘ค Oleh: Ustadz Sulthon Quthub bin Maksum ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡

๐Ÿ“œ File .pdf buletin dapat disimak pada link berikut:
Buletin 18#4 - Aku Ingin Perubahan Pada Diriku

Bagi ikhwah sekalian yg ingin memberikan kritik, saran maupun donasi untuk buletin muwahhidin silahkan menghubungi nomor berikut:

+62 857-2389-1321 (Humas RAM)

Jazaakumullahu khoiron

---
Informasi Program RAM:
www.ram.or.id
Facebook: rampontianak
Instagram: rampontianak
Twitter: @rampontianak