Oktober 15, 2017


Dzalim ialah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, pastinya Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin melarang keras dari kezaliman bagaimanapun bentuknya, Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi,

   يا عبادي! إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرماً، فلا تظالموا

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku, dan Aku haramkan kedzaliman diantara kalian maka janganlah kalian saling berbuat dzalim.” (HR. Muslim).

    Kedzaliman merupakan sebuah tindakan yang sangat ditentang oleh akal sehat apalagi oleh agama, karena dampak buruk perbuatan dzalim tidak hanya akan didapat pelakunya di dunia, tapi juga di akhirat, oleh karena itu Nabi ﷺ memperingatkan kita dari perbuatan dzalim dalam sabdanya,

إيَّاكم والظُّلم فإنَّ الظلم ظلمات يوم القيامة

“Hati-hatilah kalian dari kedzaliman, sesungguhnya kedzaliman itu merupakan kegelapan yang sangat gelap pada hari kiamat.” (Mutafaqun‘alaih).

    Kedzaliman sendiri bertingkat-tingkat, yang paling besar adalah kesyirikan, Allah ﷻ berfirman,


وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman:13).

    Kalau kita kembali pada makna dzalim adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, maka orang yang berbuat syirik telah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya, karena segala jenis ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allahsaja dan tidak boleh menyelewengkannya sedikitpun kepada selain Allah ﷻ. Allahberfirman,

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5).

    Sungguh kedzaliman yang sangat besar ketika seorang meyakini AllahYang Maha Pemberi Rezeki, Allahyang menciptakan, menghidupkan dan mematikan, Allahyang mengatur alam semesta dan AllahYang Maha Berkuasa, namun ia bersandar kepada selain Allah, bersyukur dan memuja selain Allahpadahal mereka tidak memiliki kekuasaan sedikitpun juga. Allahberfirman,

وَالّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Faathir: 13).

    Maka hak yang paling besar yang wajib kita tunaikan pertama kali sebelum yang lain adalah hak Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits Nabi pernah bertanya kepada seorang sahabat Mu’adz bin Jabal,

يامعاذ تدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله؟ قال: قلت: الله ورسوله أعلم، قال: فإن حق الله على العباد أن يعبدوا الله ولا يشركوا به شيئاً، وحق العباد على الله عز وجل أن لا يعذب من لا يشرك به شيئاً…..إلىخ.

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah atas hambanya dan hak hamba atas Allah? Aku (Mu’adz) menjawab: Allah dan Rasulnya yang lebih tahu, beliau bersabda: Hak Allah atas hambanya ialah mereka menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun, dan hak hamba atas Allah ialah Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak menyekutukannya dengan sesuatupun.” (Mutafaqun ‘alaihi).

    Yang kedua adalah kedzaliman kepada sesama yang ini tidak cukup hanya dengan bertobat kepada Allah saja, namun ia harus mendapat keridhaan/pemaafan dari orang yang dia dzalimi. Dalam sebuah hadits nabipernah bertanya kepada para sahabat,

أتدرون ما المفلس؟ قالوا: المفلس فينا من ليس له درهم ولا متاع.
فقال: إن المفلس من أمتي من يأتي يوم القيامة بصلاة وصيام وزكاة، ويأتي وقد شتم هذا، وقذف هذا، وأخذ مال هذا، وسفك دم هذا، وضرب هذا، فيعطى هذا من حسناته، وهذا من حسناته، فإن فنيت حسناته قبل أن يقضي ما عليه، أخذ من خطاياهم فطرحت عليه، ثم طرح في النار

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu? Para sahabat menjawab: orang yang bangkrut ialah siapa yang tidak memiliki uang dan harta benda. Beliau bersabda: orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat akan tetapi ketika hidup ia mencaci orang ini, menuduh orang ini, mengambil harta orang ini (dengan tidak halal), menumpahkan darah orang ini (dengan tanpa hak), dan memukul orang ini maka kebaikannya diberikan kepada masing-masing orang yang ia dzalimi sehingga ketika kebaikannya sudah habis dan hutangnya belum terbayar maka keburukan mereka dipikulkan padanya sehingga iapun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

    Yang ketiga adalah kedzaliman terhadap diri sendiri yaitu dengan tenggelam dalam dosa dan maksiat, namun tentunya AllahMaha Pengampun, betapapun besar dosa kita jika kita jujur kembali pada Allahdan memperbaiki diri, maka Allahakan mengampuninya. Allahberfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Wallahul Muwaffiq


___
(Diambil dari tulisan Ustadz Alpindi, S.Pd.I. yang dimuat pada Buletin Jum’at Muwahidin Edisi 8 Tahun ke-1: “Gelapnya Kedzaliman”)

0 comments:

Posting Komentar