November 05, 2017


*** Poster Nasihat: Keutamaan Orang yang Bertauhid ***


Orang yang paling bahagia di dunia ini adalah mereka yang mengenal Allah ﷻ dengan benar sehingga mereka mengesakan-Nya. Kita dapati orang-orang yang mengenal Allah ﷻ adalah orang-orang yang paling tenang pikirannya dan paling baik jiwanya. Mereka senantiasa merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang sangat dalam karena rasa kecintaan mereka terhadap Allah ﷻ dan tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Sesungguhnya hakikat tauhid adalah menjadikan semua bentuk peribadatan hanya untuk Allah ﷻ semata, tidak ada sekutu bagi-Nya seperti ibadah shalat, zakat, puasa, haji, doa, rasa takut, pengagungan, berharap, penyembelihan qurban, nadzar, tawakal, istianah (memohon pertolongan), istighotsah (memohon pertolongan disaat genting), dan lain-lain. Semua peribadatan tersebut tidak ditujukan untuk seorang pun dari makhluk-Nya, baik dia malaikat yang dekat dengan Allah ﷻ atau Rasul yang diutus atau seorang wali yang shalih, betapapun kedudukan dan kemuliaannya.

           Esensi dari makna tauhid adalah keyakinan seorang hamba bahwa semua urusan di tangan Allah ﷻ sehingga hatinya tidak menoleh kepada selain Allah, tidak meminta kepada siapapun selain Allah ﷻ dalam urusan-urusan yang tidak mampu dilakukan makhluk, tidak bertawakal kecuali kepada Allah ﷻ dan meyakini bahwa hanya Allah-lah yang dapat memberikan manfaat atau mudharat.

Keutamaan Tauhid
Ada banyak sekali keutamaan besar yang akan didapatkan oleh orang yang mewujudkan tauhid dengan benar, diantaranya :
1.    Orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan keamanan, Allah ﷻ berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

2.    Allah ﷻ akan memudahkan urusannya dan memberikan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapinya, Allah ﷻ berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”  (QS. Ath Thalaq 2-3)

3.    Orang yang bertauhid hidup dengan tenang di dunia. Karena dia tahu, tidak ada yang bisa memudharatkannya atau memberinya manfaat melainkan dengan izin Allah ﷻ.

4.    Orang yang bertauhid tahu bahwa ia adalah hamba Allah ﷻ. Maka ia menggantungkan hatinya hanya kepada Allah ﷻ yang menguasai segala sesuatu dan ia tidak akan menggantungkan hatinya kepada makhluk karena makhluk itu lemah.

5.    Pada hari kiamat tauhid adalah penghapus dosa-dosa. Di dalam sebuah hadits yang dikenal dengan hadits bithaqah (kartu). Dari Abdullah bin Amr , ia berkata bahwa Rasulullahberkata yang artinya: “Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan catatan amalnya  yang  berjumlah  99  kartu.  Setiap  kartu  jika  dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, Apakah engkau mengingkari sedikitpun dari catatanmu ini? Ia menjawab,Tidak sama sekali wahai Rabbku, Allah bertanya lagi,Apakah yang mencatat ini berbuat zalim kepadamu? Lalu ditanyakan pula,Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan disisimu? Dipanggillah  laki-laki   tersebut  dan   ia  berkata,Tidak.  Allah   pun   berfirman, Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih Kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini, Lantas dikeluarkanlah satu bithaqah (kartu) yang bertuliskan syahadat Laa ilaha illallah wa anna muhammadan‘abduhu wa rasuluh. Lalu ia bertanya,”Apa kartu ini yang bersama catatan-catatanku yang penuh dosa tadi? Allah berkata kepadanya,”Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.”Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salahsatu daun timbangan dan kartu Laa ilaha illallah di daun timbangan yang lainnya. Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu Laa ilaha illallah tadi.” (HR. Ibnu Majah No. 4300)

6.    Bahwa orang yang bertauhid ia tidak kekal di neraka. Rasulullah ﷺ bersabda, ”Apabila penduduk suga telah masuk surga dan penduduk neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman,Barangsiapa di hatinya ada seberat biji-biji sawi keimanan, keluarlah ia (dari neraka)! Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke Nahrul Hayah (Sungai Kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang di bawa aliran air. Lalu beliau melanjutkan, Tidaklah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

7.    Di antara keutamaannya yang lain, akan dibukakan bagi orang yang mengucapkan dan meyakininya delapan pintu surga, yang ia boleh memasukinya dari pintu manapun yang ia suka. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits Abdullah bin Umar , bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: (yang terjemahnya), ”Tidak ada salah seorang dari kalian yang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya lalu mengucapkan: “Asyhadu allaa ilaha illallaah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh” Melainkan dibukakan untuknya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia mau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudara-saudariku, sungguh besar sekali keutamaan tauhid. Oleh sebab itu, mari kita bersungguh-sungguh mempelajari tauhid dan merealisasikannya serta menjauhi syirik yang merupakan perusak tauhid. Semoga Allah ﷻ menjadikan kita golongan orang yang Muwahhid (orang yang bertauhid) dan menyelamatkan kita dari perbuatan syirik, sehingga kita pun layak mendapatkan pahala dari keutamaan tauhid. Wallahu A’lam

--
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2961-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-sebagai-perwujudan-konsekwensi-syahadatain.html
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2961-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-sebagai-perwujudan-konsekwensi-syahadatain.html
Penulis: Ustadz Arwi Fauzi Asri, Dpl.
Disalin dari buletin jum’at Muwahhidin Edisi 10 Tahun ke-1 16 Jumadil Akhir 1437 H / 25 Maret 2016.
Diterbitkan oleh Lembaga Rumah Amal Muwahhidin Pontianak.



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2961-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-sebagai-perwujudan-konsekwensi-syahadatain.html
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2961-ittiba-kepada-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-sebagai-perwujudan-konsekwensi-syahadatain.html

0 comments:

Posting Komentar