November 13, 2017


*** Poster Nasihat: Tinggalkan Kemponan! ***

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam, Rabb yang mendatangkan manfaat dan madharat, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarganya, para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan siapapun yang mengikuti tuntunan beliau hingga akhir zaman. Terkadang kita dapati gedung yang tidak memiliki lantai 13, sebuah keluarga ketakutan jika atap rumahnya dihinggapi burung gagak, menyambut jamuan ketika ditawarkan khawatir kemponan, dan lain sebagainya yang sudah umum diketahui disekitar kita. Hal-hal tersebut dan semisalnya merupakan sikap pesimis, anggapan ditimpa kemalangan, dan yang demikian itu disebut thiyarah atau tathayyur dalam Islam, yang sudah merajalela sejak zaman Jahiliyah. Lantas bagaimana syariat Islam memandang thiyarah?

Kata thiyarah adalah suatu hal yang dianggap sebagai kesialan dari pertanda buruk, dalam hadits disebutkan,

عن أبي هريرة  قال: كَانَ النَّبِيُّ  يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الْحَسَنُ وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةَ.
“Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai ucapan yang baik dan membenci thiyarah (menganggap sial ketika melihat burung atau yang semisalnya).” (HR. Ibnu Majah: 3526. Hasan Shahih menurut Syaikh Al Albani).

Dan firman Allah ﷻ,

قَالُوا۟ ٱطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ ۚ قَالَ طَٰٓئِرُكُمْ عِندَ ٱللَّهِ ۖ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌۭ تُفْتَنُونَ
“Mereka (kaum Tsamud) menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.” (QS. An Naml: 47). [Mukhtarush Shihhah hal. 194, Zainuddin Ar Razi].

Dalil Larangan Tathayyur
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  قَالَ: "لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ..."
“Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal)…” (HR. Bukhari: 5329, Muslim: 4125).

Asal muasal ungkapan thiyarah atau tathayyur bahwasanya mereka (bangsa Arab) pada zaman Jahiliyah, berpatokan terhadap seekor burung jika seseorang dari mereka bepergian karena suatu urusan, maka jika ia melihat burung terbang ke arah kanan, ia menganggapnya sebagai suatu pertanda baik lalu melanjutkan perjalanan, dan jika ia melihat burung terbang ke arah kiri, ia menganggapnya sebagai pertanda buruk lalu ia pulang. (Fathul Bari syarh shahih Al Bukhari, Bab Qauluhu ath Thiyarah hal. 212, Ibnu Hajar Al ‘Asqalani).

Thiyarah termasuk syirik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، وَمَا مِنَّا إِلاَّ، وَلَكِنَّ اللهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.
Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik dan setiap orang pasti (pernah terlintas dalam hatinya sesuatu dari hal ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakal kepada-Nya.” (HR. Bukhari: 909 dalam al Adabul Mufrad).

Pengharaman thiyarah didasarkan pada beberapa hal:
1.    Dalam thiyarah terkandung sikap bergantung kepada selain Allah .
Thiyarah melahirkan perasaan takut, tidak aman dari banyak hal dalam diri seseorang, sesuatu yang pada gilirannya menyebabkan kegoncangan jiwa yang dapat mempengaruhi proses kerjanya sebagai khalifah di muka bumi.

2.    Thiyarah membuka jalan penyebaran khurafat dalam masyarakat dengan jalan memberikan kemampuan mendatangkan manfaat dan keburukan atau mempengaruhi jalan hidup manusia kepada berbagai jenis makhluk yang sebenarnya tidak mereka miliki. Pada gilirannya, itu akan mengantar kepada perbuatan syirik. (Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Yazid bin Abdul Qadir Jawas).

Hendaknya kita sebagai seorang mukmin yang mengikuti tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar selalu optimis disertai dengan berserah diri kepada Allah , tidak pesimis menganggap sesuatu pertanda yang menimpa kita sebagai penyebab kesialan.

Bergembiralah bagi orang yang tidak tathayyur karena mendapatkan keutamaan dari Allah ﷻ  sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits,

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله  قال: يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِيْ سَبْعُوْنَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمُ الَّذِيْنَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُوْنَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ.
“Dari Ibnu bin ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada tujuh puluh ribu orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab, yaitu yang tidak meminta diruqyah, tidak berfirasat sial karena melihat burung dan hanya bertawakal kepada Rabb mereka.”  (HR. Bukhari: 5991, Muslim: 317)

Namun jika kita ditakdirkan oleh Allah ﷻ mendapatkan kemalangan walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin serta tawakal, maka tidak ada seorangpun yang mampu mencegahnya, dan hendaknya ia ridha dan bersabar atas ketentuan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

... وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ» هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ "
“...Ketahuilah seandainya umat bersatu untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan memberi manfaat apa pun selain yang telah ditakdirkan Allah untukmu dan seandainya bila mereka bersatu untuk membahayakanmu, mereka tidak akan membahayakanmu sama sekali kecuali yang telah ditakdirkan Allah padamu, pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering (maksudnya takdir telah ditetapkan).” (HR. Tirmidzi: 2440. Berkata Abu ‘Isa: Hadits ini hasan shahih).

Demikianlah pembahasan ringkas mengenai thiyarah atau tathayyur, semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kesyirikan yang diantaranya yaitu menganggap sesuatu hal sebagai pertanda sial (thiyarah atau tathayyur) dan menjadikan kita termasuk yang mendapatkan keutamaan masuk surga tanpa hisab, Aamiin.

Wallahu a’lamu bis shawaab

---
Penulis: Ustadz Mikail Basmalah, BA
Disalin dari Buletin Jum’at Muwahhidin Edisi 13 Tahun ke-1: 7 Rajab 1437 H / 15 April 2016. Diterbitkan oleh Lembaga Rumah Amal Muwahhidin Pontianak.

0 comments:

Posting Komentar