Februari 18, 2018



Cinta merupakan suatu anugerah yang Allah subhanahu wa ta’aala berikan kepada setiap insan. Dan cinta adalah fitrah setiap manusia kepada sesuatu yang membuatnya jatuh cinta. Salah satu cinta yang wajib dimiliki setiap muslim adalah cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan cinta ini merupakan salah satu bentuk buah keimanan kita kepadanya. Begitu banyak firman Allah dan sabda Rasulullah yang menerangkan hal cinta dan keimanan kepadanya. Allah berfirman,




قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)


حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Anas dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya." (HR. Bukhari).



Mengimani Rasulullah tidaklah cukup sebatas ucapan lisan kita tanpa disertai dengan keyakinan di dalam hati serta mengamalkannya dengan amal perbuatan kita secara lahiriah. Dan tidaklah cukup mengimani Rasulullah dengan lisan dan hati namun kita enggan mengamalkan ajaran-ajarannya.

إِإِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan (QS. Al Fath: 8)





قَالَ فَأَخْبرِْنيِ عَنْ الإِْيمَانِ قَالَ أَنْ تـُؤْمِنَ بِا َِّ وَمَلاَ ئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيـَوْمِ الآْ خِ رِ وَتـُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ.خَيرِْهِ وَشَرِّه

“Dia (Jibril) bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu?' Beliau menjawab: "Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk." (HR. Muslim)


Para ulama mengartikan arti keimanan di dalam kitab Majmu’ Fatawa bahwasanya iman adalah mengucapkan secara lisan dan meyakininya di dalam hati serta mengamalkannya dengan anggota badan dan iman bertambah dengan ketaatan sedangkan melemahnya iman dengan melakukan kemaksiatan. Iman sangatlah besar kaitannya dengan amalan perbuatan seorang muslim, karena kedua hal tersebut (iman dan perbuatan) merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Allah berfirman,




إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya".(QS. Fussilat: 8)



Dan Allah juga berfirman,


الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS.Yunus: 63)


Mari kita mentadaburi kembali bahwa sangatlah berat kaitannya orang yang beriman dengan melakukan amalan perbuatan. Maka dengan demikian iman kita kepada Nabi Muhammad tidaklah keluar dari pengertian yang dipaparkan oleh para ulama yaitu, iman kepada Rasulullah dengan mengucapkan secara lisan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah kemudian mengimaninya di dalam hati bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah serta meyakini risalah yang dibawanya sebagai tuntunan umatnya dan meyakini bahwa ia adalah penutup para nabi, kemudian iman kepada Rasulullah dengan mengamalkan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.



Pentingnya bagi setiap muslim untuk mengetahui bahwasanya Rasulullah seorang yang menyeru kepada sesuatu yang Allah cintai dan tidaklah sesuatu tersebut Allah cintai melainkan Rasulullah menyeru untuk melakukannya dan tidaklah Rasulullah menyeru kepada sesuatu melainkan Allah mencintai hal itu. Maka tidaklah kita melakukan suatu perbuatan karena cinta kita kepada Rasulullah dengan semena-semenanya, namun kita melakukan suatu perbuatan yang mana Rasulullah mencintai dan meridhai hal tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَخْرَمِيُّ وَعَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَبِي عَوْنٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ

Dari 'Aisyah radhiallahu 'anha berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak". Diriwayatkan pula oleh 'Abdullah bin Ja'far Al Makhramiy dan 'Abdul Wahid bin Abu 'Aun dari Sa'ad bin Ibrahim”. (HR. Bukhari).



Hadits di atas telah mengingatkan kepada kita bahwa segala amal perbuatan di dalam urusan agama baik itu amal yang kaitannya dengan hati, ataupun dengan anggota tubuh kita secara lahiriah kecuali dilandaskan dengan Al-Qur’an dan As- Sunnah. Dan tidak selayaknya sebagai seorang hamba yang lemah ini dengan menambahkan atau mengurangkan atau membuat perkara baru di dalam urusan agama ini karena Allah berfirman,


الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3).


Wallahu a’lam


---

Penulis: Ustadz Ibnu Dzulkifli
Disalin dari Buletin Muwahhidin edisi 21 Tahun ke-1 dengan judul: Aku Cinta Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Waktu Terbit: Jum’at, 5 Ramadhan 1437 H/ 10 Juni 2016. Diterbitkan oleh: Rumah Amal Muwahhidin Pontianak






0 comments:

Posting Komentar