Februari 03, 2018



Mencintai Allah merupakan ibadah yang agung. Cinta yang merupakan ibadah ini, mengharuskan seorang muslim merendahkan dirinya di hadapan Allah, mengagungkan Allah, yang akhirnya akan membawa seseorang untuk menjalankan perintah Allah dan juga untuk menjauhi apa yang Allah larang. Inilah cinta yang merupakan ibadah. Barangsiapa yang memberikan cinta ini kepada selain Allah, maka dia telah berbuat syirik besar. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165).

Adapun cinta yang merupakan tabiat manusia, seperti cinta keluarga, harta, pekerjaan dll, maka hal ini diperbolehkan selama tidak melebihi cinta kita kepada Allah. Apabila seseorang mencintai perkara-perkara tersebut melebihi cintanya kepada Allah, maka dia telah melakukan dosa besar. Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah: 24).

Ketika terjadi pertentangan antara dua kecintaan, maka disini akan tampak siapa yang lebih dia cintai, dan akan tampak siapa yang cintanya benar dan siapa yang cintanya hanya sebatas ucapan saja. Diantara cara untuk memupuk rasa cinta kita kepada Allah adalah dengan mentadaburi atau memperhatikan ayat-ayat Al Qur’an dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Demikian pula dengan cara mengingat-ingat berbagai kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita.

Wallahu A’lam

---

Disalin dari tulisan Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA pada buku Silsilah Belajar Tauhid yang juga dimuat pada Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 30 Tahun ke-2: 5 Dzulqo’dah 1438 H / 28 Juli 2017 yang diterbitkan oleh Lembaga Rumah Amal Muwahhidin Pontianak.



0 comments:

Posting Komentar