Maret 13, 2018


Wasiat Tauhid untuk Umat


Kaum muslimin yang dirahmati Allah, sesungguhnya perbuatan yang paling keras larangannya dan merupakan lawan dari tujuan diciptakannya seorang hamba adalah syirik. Jika dengan tauhid seorang hamba bisa merasakan puncak kebahagiaan dan menikmati segala jenis kenikmatan yang tidak terbayangkan oleh akal manusia, maka begitu sebaliknya dengan kesyirikan seorang hamba bisa terjerembab menuju dasar jurang kesengsaraan dan merasakan azab Allah yang amat keras dan tidak dapat terbayangkan.

Setiap Rasul yang diutus oleh Allah pasti semuanya mendakwahkan tauhid dan memperingatkan kaumnya dari syirik sebagaimana Allah berfirman :

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’” (QS. An-Nahl : 36)

Demikian pula diri kita sudah selayaknya untuk senantiasa mendakwahkan tauhid kepada manusia dan juga memperingatkan mereka terhadap bahaya kesyirikan. Ingat saudaraku, mati tidak di atas tauhid akan menjadi petaka yang sangat menakutkan. Jangankan manusia biasa seperti kita. Nabi Ibrahim seorang imam dan teladan bagi kaum muwahhid (orang yang bertauhid) bahkan mendapatkan gelar dari Allah sebagai khalilullah (kekasih Allah) sangat merasa khawatir akan bahaya syirik, lantas bagaimana lagi dengan kita?

Allah berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.’” (QS. Ibrahim : 35)

Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim mengatakan, Ibrahim At Tamimi mengomentari ayat ini. “Lantas, siapakah yang bisa merasa aman dari petaka ini setelah Ibrahim?” (Fathul Majid, hal.72).

Memang seperti itulah ciri orang yang saleh. Mereka mengkhawatirkan dirinya tertimpa keburukan dan penyimpangan terutama mengenai kesyirikan.

Pesan Tauhid Untuk Penerus Generasi


Setiap orangtua hendaknya menjadikan permasalahan tauhid sebagai prioritas dalam menanamkan dan mengajarkan anak-anaknya, ajari mereka tauhid yang benar, aqidah yang benar, dan juga akhlak-akhlak yang mulia. Jangan sampai terpedaya oleh dakwah yang kita lakukan, kita sibuk mendakwahkan tauhid kepada manusia, namun kita malah lupa untuk berdakwah kepada keluarga dan anak-anak kita.

Ambilah pelajaran dari kisah Nabi Nuh, tatkala mendakwahkan tauhid kepada umatnya, beliau dicemooh oleh kaumnya bahkan beliau juga dicemooh oleh putranya sendiri. Pada saat Allah mengirimkan azab atas kekafiran berupa banjir yang sangat hebat, lalu Nabi Nuh memanggil putranya seraya berkata, “Duhai putraku, naiklah engkau (ke dalam kapal) bersama kami janganlah engkau berada bersama orang-orang yang kafir.” Namun apa jawaban putranya, ”Aku akan mencari perlindungan ke (puncak) gunung yang dapat menjagaku dari banjir.” Nabi Nuh mengingatkan putranya lagi dengan berkata, “Hari ini tidak ada lagi yang dapat melindungi dari azab selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Ketetapan Allah pun terjadi, gelombang besar menjadi penghalang antara mereka berdua, dan anaknya ternyata tergolong manusia yang ditenggelamkan.

Setelah itu, Nabi Nuh berdoa kepada Allah seraya memohon, “Wahai Rabbku, sesungguhnya putraku bagian dari keluargaku. Sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar dan Engkau hakim yang paling adil.” Maka Allah berfirman, ”Wahai Nuh, sesungguhnya ia bukan anakmu. Sesungguhnya itu adalah amal yang tidak saleh.” (Lihat kisah ini dalam QS. Hud: 42-47). Ibnu Katsir menjelaskan, “Maksudnya dia bukan anakmu yang berhak diselamatkan disebabkan kekufuran dan kedurhakaanya kepada Allah yang sekaligus pembangkangan terhadap ayahnya.” (Tafsir Ibnu Katsir III/325)

Wasiat Tauhid dari Para Nabi dan Orang-Orang Saleh


Seseorang yang cinta pasti tidak ingin melihat kekasihnya terjatuh dalam jurang kebinasaan, inilah yang dilakukan para Nabi dan orang-orang saleh terhadap orang-orang yang mereka cintai. Terkadang, kita dapati tatkala seseorang ingin meninggal dunia, maka ia pun mengucapakan wasiat-wasiat yang sangat penting, ada manusia yang berwasiat tentang keluarga yang ia cintai, adapula diantara mereka yang berwasiat tentang harta yang ia cintai, namun lain halnya dengan para Nabi dan orang-orang saleh. Mereka justru berwasiat keimanan dan tauhid kepada orang-orang yang ia cintai, ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan perkara yang sangat penting di dalam kehidupan mereka.

Perhatikanlah bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub berwasiat kepada anak-anak mereka seraya berkata,

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.’” (QS. Al-Baqarah : 132).

Dan menjelang wafat, Nabi Ya’qub bermaksud untuk memastikan keteguhan iman dalam diri anak-anaknya.

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah : 133)

Demikian juga yang diperbuat oleh Luqman Al Hakim beliau menitipkan sederet wasiat luhur kepada putranya yang Allah abadikan dalam kitab suci Al-Qur’an,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman : 13)

Bahkan Rasulullah pun menancapkan pemahaman tauhid dan aqidah pada diri keluarga beliau. Suatu hari Rasulullah menegaskan kepada putrinya Fatimah, ”Wahai Fatimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu sendiri dari api neraka, aku tidak memiliki kekuasaan Allah sedikitpun bagimu.” (HR. Muslim No. 500)

Rasulullah juga bersabda yang terjemahnya, “Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah (harta) apapun yang engkau kehendak dariku, akan tetapi aku tidak bermanfaat (menolongmu) dari Allah sedikitpun.” (HR. Muslim No. 503, An-Nasa’i No. 3646)

Subhanallah, semua ini menggambarkan kesungguhan mereka dalam mengkokohkan tauhid dan menanamkan aqidah di dalam keluarga yang sangat mereka cintai. Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas tauhid dan pemahaman aqidah yang benar, sehingga kami memeurnikan peribadahan hanya untuk-Mu.

Wallahu A’lam

---
Disalin dari tulisan Ustadz Jaka Sutrisna pada Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 27 Tahun ke-1: 17 Syawal 1437 H / 22 Juli 2016 yang diterbitkan oleh Lembaga Rumah Amal Muwahhidin Pontianak.




0 comments:

Posting Komentar