Maret 06, 2018


Kalimat Laa Ilaaha Illallah merupakan kuncinya Islam, dengan kalimat tersebut terjaganya darah, harta, dan dengan merealisasikannya meraih keselamatan dari siksa api neraka. Namun ironisnya sebagian muslim kadang memahami hanya dengan mengucapkannya, tanpa  mengamalkan yang terkandung di dalamnya, merasa cukup dalam meraih hakikat iman. (Syuruth Laa Ilaaha Illallah, hal. 1)


Imam Wahab bin Munabbih pernah ditanya, “Bukankah kunci surga itu adalah Laa Ilaaha Illallah?”, ia menjawab, “iya benar, namun setiap kunci itu pasti ada giginya. Jika engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka akan terbuka. Namun jika tidak ada giginya, maka tidak akan terbuka”. Beliau mengisyaratkan gigi dari kunci yang dimaksud syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah yang wajib dipegang teguh oleh setiap muslim.


Definisi Syarat
Secara bahasa syarat adalah tanda, atau mengharuskan sesuatu dan konsekuensinya dalam  jual beli atau yang lainnya. (Mu’jam Matan Al Lughah 3/304 dan Al Mu’jam Al Washith 1/478). Adapun secara istilah adalah sesuatu yang ketetapan suatu hukum tergantung padanya. (At Ta’rifaat, hal 131). Ada yang mengatakan, ketergantungan suatu perkara akan keberadaannya (syarat), namun ia bukan termasuk bagian dari wujudnya (perkara). Seperti wudhu dalam shalat, maka sesungguhnya ia syarat sahnya shalat, maka jika wudhu tiada, tidak sah shalatnya, dan bukanlah wudhu bagian dari wujud shalat. Maka perkara ini tidak terwujud dan tidak dianggap perkara (yang sah) -dalam pandangan syari’ (pembuat syari’at)- melainkan jika terwujudnya syarat itu, walaupun tidak termasuk bagian dari wujud (perkara). (Ushul Fiqhi Al Islami, hal. 315)


Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah
Syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah ada tujuh sebagaimana yang dirangkum oleh Syaikh Hafizh dalam baitnya, “Dengan tujuh syarat yang telah dibuat, yang diambil dengan benar dari nash-nash wahyu maka tidaklah bermanfaat orang yang mengatakannya (Laa Ilaaha Illallah) dengan lisan, kecuali menyempurnakannya: (Ma’arijul Qabuul 2/418)
Ilmu, yaqin, dan menerima
Serta tunduk, maka ketahuilah yang aku katakan!
Kebenaran (kejujuran), ikhlas, dan cinta
Semoga Allâh membimbingmu kepada apa yang Dia cintai

Adapun secara rinci beserta dalilnya sebagai berikut.
1. Ilmu
Secara bahasa adalah lawan dari jahl (kebodohan), adapun secara istilah yaitu mengetahui pengetahuan sebagaimana adanya. (At Tamhid, hal. 34)


Dalilnya firman Allah:


فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah.”  (QS.Muhammad: 19)
Dan Firman-Nya:


إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
...kecuali orang yang mengakui al-haq dan mereka mengetahui (mengilmui).” (QS. Az-Zukhruf: 86)


Ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ubadah bin Shamit berkata, Rasulullah bersabda:


مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ
"Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satu-satunya dengan tidak menyekutukan-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya dan (bersaksi) bahwa 'Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan firman-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya". (HR. Bukhari 6/474, Muslim 1/223)


Makna dari َ“barangsiapa bersaksi”, bagaimana mungkin seseorang bersaksi namun ia tidak mengetahui (yang dipersaksikannya), dimana hanya mengucapkan akan sesuatu tidak dinamakan persaksian atasnya. (Taisiril Azizil Hamid, hal. 53)


2. Yaqin
Secara bahasa adalah menafikan syak (keraguan). Adapun secara istilah yaitu meyakini sesuatu bahwasanya dia demikian disertai keyakinan bahwa dia tidak mungkin melainkan demikian sesuai dengan kenyataan tanpa ada kemungkinan hilang (keyakinan tersebut).
(At Ta’rifat, hal. 280)


Dalilnya adalah firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat: 15)


3. Ikhlas
Secara  bahasa  adalah  memurnikan  sesuatu,  menafikan  syirik dan  riya’. Yaitu dengan memurnikan amal dari semua cabang kesyirikan yang zahir maupun yang batin, dengan mengikhlaskan niat untuk Allah semata dalam seluruh ibadah. Dalilnya firman Allah:


وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus...” (QS. Al-Bayyinah: 5)


Rasulullah bersabda yang terjemahnya:
“Orang yang paling bahagia dengan syafa’atku di hari kiamat kelak adalah orang yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas dari hatinya.” (HR. Bukhari  1/193, Ahmad 2/373).


4. Shidqu  
Secara bahasa adalah jujur, menafikan kadzib (dusta), yaitu kesesuaian ucapan terhadap kenyataan yang tergantung dengan keyakinan pengucap. Dalilnya adalah firman Allah:


قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. Al-Ma’idah: 119)


Rasulullah bersabda yang terjemahnya:
“Tidak ada seorangpun yang bersyahadat bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, dengan jujur dari hatinya, kecuali ia pasti diharamkan oleh Allah untuk masuk neraka.” (HR. Bukhari 1/226)


5. Mahabbah
Secara bahasa adalah cinta yang menafikan bughdhu (kebencian). Adapun secara istilah yaitu kecondongan kepada seseorang, atau sesuatu yang mulia atau mempesona atau bermanfaat.
(Al Mu’jam Al Washit 1/151)


Dalilnya adalah firman Allah:


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali-Imran: 31)


Rasulullah bersabda yang terjemahnya:
“Ada tiga hal yang jika ada pada diri seseorang ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selainnya, (2) ia mencintai seseorang karena Allah, (3) ia benci untuk kembali pada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan  ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 1/ 72, Muslim 2/13)


Yahya bin Mu’adz berkata yang terjemahnya:
“Bukanlah  termasuk  orang  yang  jujur,  bagi  siapapun  yang mengaku  mencintai  Allah sedangkan ia tidak menjaga batasan-batasan-Nya. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, hal. 340)


6. Inqiyad
Secara bahasa adalah patuh/tunduk yang menafikan tarku (ketidakpatuhan). Maksudnya yaitu kepatuhan yang sempurna terhadap Laa Ilaaha Illallah dan yang terkandung di dalamnya yang zahir  maupun batin, dengan kepatuhan yang menafikan ketidakpatuhan. Dan patuh dengan mengamalkan  apa yang Allah wajibkan dan meninggalkan apa yang diharamkan-Nya serta konsisten akan hal itu. Karena hakikat makna  Islam  yaitu  agar hamba tunduk berserah diri dengan hatinya dan anggota badannya untuk Allah, dan patuh untuknya dengan tauhid dan ketaatan. (Mukhtasharul Aqidah Al Islamiyyah, hal. 58).


Dalilnya adalah firman Allah:


وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (QS. Az-Zumar: 54)


7. Qabul
Secara bahasa menerima yang menafikan radd (penolakan),  dimana seorang muslim wajib menerima kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan sebenar-benarnya dengan hati dan lisannya.

Dalilnya firman Allah:


وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلًا إِلَىٰ قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا ۖ وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman."(QS. Ar-Rum: 47)


Wallahu a’lam

 ---
Disalin dari tulisan Ustadz Mikail Basmalah, BA pada Buletin Jum'at Muwahhidin Edisi 31 Tahun ke-1: 16 Dzulqo'dah 1437 H / 19 Agustus 2016 yang diterbitkan oleh Lembaga Rumah Amal Muwahhidin Pontianak.




0 comments:

Posting Komentar